catatan etta
Blog ini berisikan kisah hidup keluarga aku maupun semua catatan yang ingin aku ungkapkan mengenai kehidupan di dunia...
Jumat, 25 Mei 2012
I'll Be Back
Yeay..
Tak terasa sudah lama saya tidak nulis di blog ini. Faktor kesibukan menjadi alasan utama. Alasan klise memang, tapi memang benar begitu adanya. Mudah-mudahan di kemudian hari saya dapat menambah postingan di blog ini. AMIN ;)
Selasa, 16 November 2010
Hari-hari tanpanya… (Mengenang Kepergian Papah bagian ke- 2 )
Ikhlas…
Kata itulah yang kini sedang kami usahakan untuk diterapkan dalam kehidupan kami. Meski terkadang muncul rasa kangen akan kehadiran Papah.
Kerinduan bertemu Papah seringkali muncul di saat saya sedang dalam perjalanan.
Mungkin disebabkan karena saya yang sering menemani Papah menghadiri undangan di saat Mamah enggan hadir. Saya pula yang sering diantar jemput oleh Papah, baik saat kuliah maupun saat saya harus menghadiri interview kerja atau tes CPNS. Boleh dibilang saya yang paling sering pergi bareng Papah, meski di perjalanan kami lebih banyak diam. Sifat saya yang pendiam dan tidak banyak omong adalah salah satu sifat Papah yang menurun pada saya.
Seingat saya, terakhir kali makan berdua saja dengan Papah saat awal Januari. Saat itu Papah sedang mengurus acara reuni PIGPP tempat tinggal kami dulu saat masih di Sulawesi. Papah dipercaya mengurus semuanya, saat itu Papah sedang mampir ke kantor menemui beberapa teman lamanya. Papah mengajak saya pulang, lalu kami mampir makan siang di dekat stasiun Cawang. Sedangkan ketika adik saya mentraktir makan di Solaria dengan seluruh anggota keluarga plus pacarnya itu, saya tidak ikut dengan alasan menjaga rumah. Pun ketika di hari libur mereka pergi mencari “pantai” di ujung wilayah Bekasi, saya pun tidak ikut dengan alas an yang sama. Padahal kebersamaan saat bepergian itu sudah lama hilang, semenjak kami, anak-anaknya, sibuk dengan urusan masing-masing.
Menyesal sekali saya sekarang, sudah lama sekali rasanya kami tidak keluar dan hang out atau makan bareng di suatu restoran utuh berlima. Dan saat Papah mengajak mencari cemilan di malam hari : bubur kacang ijo, hanya adik-adik saya yang ikut. Saya di rumah menemani Mamah yang minta diurut.
Sepertinya Papah memang telah berfirasat sebelumnya, sehingga sering mengajak kami bepergian. Di bulan Januari itupun, saat saya terbangun dari tidur, saya melihat Papah sedang mengamati kami bertiga tidur. Pun saat waktunya Subuh, saat Papah pulang dari mesjid, Papah selalu membangunkan kami. Tidak seperti biasanya. Tanda-tanda lainnya, saat pulang dari resepsi pernikahan teman lama kami, dan kami sekeluarga sedang dibalut busana yang bagus, Papah mengajak kami sekeluarga berfoto bersama. Yah, foto keluarga kami terakhir adalah di tanggal 10 Januari 2010. Pada saat resepsi itu, bertemu dengan teman-teman lamanya Papah selalu ikut bila ada yang mengambil gambar. Tampak di sebuah foto, Papah laki-laki sendirian sementara yang lainnya ibu-ibu komplek dan putri-putrinya serta tante-tante karyawati zaman di Sulawesi dulu.
Penyesalan saya semakin bertambah karena Papah sempat menyatakan kekecewaannya karena hingga umurnya saat itu, 61 tahun, belum ada anaknya yang bisa menyetir mobil. Apalagi saat Papah mengeluh akan sakit di perutnya dan kami tidak bisa mengantarnya sendiri, kami terpaksa menghubungi om kami minta diantar ke rumah sakit. Lalu saat pagi harinya Papah kembali merasakan sakit, kembali kami hanya bisa mengantarkannya dengan naik becak menuju rumah sakit terdekat, yang akhirnya membawa Papah merasakan ‘sakit’ yang lebih dalam selama masa perawatan.
Hidup harus terus berjalan...
Oleh karena itu ketika adik bungsu saya, Atta, meminta izin untuk menikah terlebih dahulu, saya mengizinkannya. Tepat 40 hari setelah kepergian Papah, 27 Maret 2010, Atta menikah dengan pilihan hatinya yang memang sudah Papah kenal baik. Dan sekarang mereka sedang berbahagia karena akan segera memiliki momongan.
Adik saya, Pei, yang telah diterima di Kementerian Kehutanan pada 2009 lalu akhirnya mulai bekerja dan pindah ke Bandung pada bulan Juni 2010. Dulu Papah mengira Pei akan ditempatkan di Cirebon, sesuai hasil pengumuman tes CPNS. Kalau saja Papah masih hidup pastinya senang sekali karena akhirnya ada alasan untuk sering-sering ke Bandung.
Mamah yang sangat terpukul dengan kepergian Papah dan pada awalnya selalu tenggelam dalam kesedihan, akhirnya sedikit demi sedikit mulai kembali ceria dan mau keluar rumah. Kini, secara rutin Mamah selalu berdoa dan membaca Surat Yasin setiap selesai sholat Subuh dan Ashar. Untungnya pula kami memiliki tetangga yang baik hati, saat siang hari disaat Mamah sendirian di rumah, mereka secara bergantian berkunjung ke rumah menemani Mamah.
Sementara saya, si sulung, masih terus berharap agar dapat diterima sebagai PNS di tempat saya bekerja sekarang. Papah akan sangat senang bila ada anaknya yang diterima di tempat kerjanya dulu.Tes CPNS tahun ini sudah saya ikuti dan nampaknya harapan saya tidak akan sia-sia mengingat kali ini ada yang ingin ‘membantu’. Namun untuk tesnya sendiri kemarin saya merasa bisa mengerjakannya. Tinggal menunggu dan memohon pertolongan dari Allah SWT.
Akhirnya, karena di tahun ini banyak kejadian yang menyedihkan, saya ingin di tahun 2011 nantinya akan banyak kebahagiaan dan kegembiraan yang menghampiri keluarga kami. Salah satunya adalah hadirnya bayi mungil, keponakan saya, Insya Allah akan lahir di akhir Maret atau awal April 2011. Semoga bayi itu lahir dengan sehat dan sempurna, serta kelahirannya kelak membawa kebahagiaan baru bagi keluarga.
Harapan saya di tahun 2011 :
Allah SWT akan mengirimkan seorang pria baik hati nan tampan rupawan, soleh, pekerja keras, bertanggungjawab dan berasal dari keluarga baik-baik, yang datang tiba-tiba lalu melamar saya.
Yah… boleh kan berharap jodoh akan datang di tahun depan.
Katanya, setiap orang sudah diciptakan berpasang-pasangan. Kata orang, jodoh nggak akan kemana. Kata orang pula, jodoh tidak usah dicari, dia akan datang sendiri pada waktu yang tepat.
Semoga demikian halnya dengan jodohku. Nggak perlu lama-lama pendekatan alias pacaran, asal cocok secara visi misi ke depan, hayukkk aja langsung ke penghulu. Hahahaha…
Papah pernah berkata, jika sebuah keluarga kehilangan kepala keluarga maka keadaan ekonomi keluarga mau tidak mau akan terpengaruh, beda halnya jika ibu yang terlebih dahulu meninggal. Papah berkata begitu karena berdasarkan pengalamannya dan pengalaman beberapa teman maupun kerabatnya. Papah tidak bisa kuliah sesuai jurusan yang diinginkannya karena harus sambil bekerja membiayai adik-adiknya. Beda dengan kerabatnya, yang Ibunya meninggal namun karena Ayahnya masih mampu membiayai maka anak-anaknya menjadi orang semua. Maksud Papah bukannya menyesali nasibnya, namun hanya memberikan pendapatnya.
Namun kami yakin, hal tersebut Insya Allah tidak akan berpengaruh dalam kehidupan kami ke depannya. Papah pergi setelah anak-anaknya selesai sarjana dan telah bekerja semua, sedangkan Mamah masih memiliki tunjangan pensiun.
Insya Allah kehidupan kami tidak akan kekurangan Pah…
Kata itulah yang kini sedang kami usahakan untuk diterapkan dalam kehidupan kami. Meski terkadang muncul rasa kangen akan kehadiran Papah.
Kerinduan bertemu Papah seringkali muncul di saat saya sedang dalam perjalanan.
Mungkin disebabkan karena saya yang sering menemani Papah menghadiri undangan di saat Mamah enggan hadir. Saya pula yang sering diantar jemput oleh Papah, baik saat kuliah maupun saat saya harus menghadiri interview kerja atau tes CPNS. Boleh dibilang saya yang paling sering pergi bareng Papah, meski di perjalanan kami lebih banyak diam. Sifat saya yang pendiam dan tidak banyak omong adalah salah satu sifat Papah yang menurun pada saya.
Seingat saya, terakhir kali makan berdua saja dengan Papah saat awal Januari. Saat itu Papah sedang mengurus acara reuni PIGPP tempat tinggal kami dulu saat masih di Sulawesi. Papah dipercaya mengurus semuanya, saat itu Papah sedang mampir ke kantor menemui beberapa teman lamanya. Papah mengajak saya pulang, lalu kami mampir makan siang di dekat stasiun Cawang. Sedangkan ketika adik saya mentraktir makan di Solaria dengan seluruh anggota keluarga plus pacarnya itu, saya tidak ikut dengan alasan menjaga rumah. Pun ketika di hari libur mereka pergi mencari “pantai” di ujung wilayah Bekasi, saya pun tidak ikut dengan alas an yang sama. Padahal kebersamaan saat bepergian itu sudah lama hilang, semenjak kami, anak-anaknya, sibuk dengan urusan masing-masing.
Menyesal sekali saya sekarang, sudah lama sekali rasanya kami tidak keluar dan hang out atau makan bareng di suatu restoran utuh berlima. Dan saat Papah mengajak mencari cemilan di malam hari : bubur kacang ijo, hanya adik-adik saya yang ikut. Saya di rumah menemani Mamah yang minta diurut.
Sepertinya Papah memang telah berfirasat sebelumnya, sehingga sering mengajak kami bepergian. Di bulan Januari itupun, saat saya terbangun dari tidur, saya melihat Papah sedang mengamati kami bertiga tidur. Pun saat waktunya Subuh, saat Papah pulang dari mesjid, Papah selalu membangunkan kami. Tidak seperti biasanya. Tanda-tanda lainnya, saat pulang dari resepsi pernikahan teman lama kami, dan kami sekeluarga sedang dibalut busana yang bagus, Papah mengajak kami sekeluarga berfoto bersama. Yah, foto keluarga kami terakhir adalah di tanggal 10 Januari 2010. Pada saat resepsi itu, bertemu dengan teman-teman lamanya Papah selalu ikut bila ada yang mengambil gambar. Tampak di sebuah foto, Papah laki-laki sendirian sementara yang lainnya ibu-ibu komplek dan putri-putrinya serta tante-tante karyawati zaman di Sulawesi dulu.
Penyesalan saya semakin bertambah karena Papah sempat menyatakan kekecewaannya karena hingga umurnya saat itu, 61 tahun, belum ada anaknya yang bisa menyetir mobil. Apalagi saat Papah mengeluh akan sakit di perutnya dan kami tidak bisa mengantarnya sendiri, kami terpaksa menghubungi om kami minta diantar ke rumah sakit. Lalu saat pagi harinya Papah kembali merasakan sakit, kembali kami hanya bisa mengantarkannya dengan naik becak menuju rumah sakit terdekat, yang akhirnya membawa Papah merasakan ‘sakit’ yang lebih dalam selama masa perawatan.
Hidup harus terus berjalan...
Oleh karena itu ketika adik bungsu saya, Atta, meminta izin untuk menikah terlebih dahulu, saya mengizinkannya. Tepat 40 hari setelah kepergian Papah, 27 Maret 2010, Atta menikah dengan pilihan hatinya yang memang sudah Papah kenal baik. Dan sekarang mereka sedang berbahagia karena akan segera memiliki momongan.
Adik saya, Pei, yang telah diterima di Kementerian Kehutanan pada 2009 lalu akhirnya mulai bekerja dan pindah ke Bandung pada bulan Juni 2010. Dulu Papah mengira Pei akan ditempatkan di Cirebon, sesuai hasil pengumuman tes CPNS. Kalau saja Papah masih hidup pastinya senang sekali karena akhirnya ada alasan untuk sering-sering ke Bandung.
Mamah yang sangat terpukul dengan kepergian Papah dan pada awalnya selalu tenggelam dalam kesedihan, akhirnya sedikit demi sedikit mulai kembali ceria dan mau keluar rumah. Kini, secara rutin Mamah selalu berdoa dan membaca Surat Yasin setiap selesai sholat Subuh dan Ashar. Untungnya pula kami memiliki tetangga yang baik hati, saat siang hari disaat Mamah sendirian di rumah, mereka secara bergantian berkunjung ke rumah menemani Mamah.
Sementara saya, si sulung, masih terus berharap agar dapat diterima sebagai PNS di tempat saya bekerja sekarang. Papah akan sangat senang bila ada anaknya yang diterima di tempat kerjanya dulu.Tes CPNS tahun ini sudah saya ikuti dan nampaknya harapan saya tidak akan sia-sia mengingat kali ini ada yang ingin ‘membantu’. Namun untuk tesnya sendiri kemarin saya merasa bisa mengerjakannya. Tinggal menunggu dan memohon pertolongan dari Allah SWT.
Akhirnya, karena di tahun ini banyak kejadian yang menyedihkan, saya ingin di tahun 2011 nantinya akan banyak kebahagiaan dan kegembiraan yang menghampiri keluarga kami. Salah satunya adalah hadirnya bayi mungil, keponakan saya, Insya Allah akan lahir di akhir Maret atau awal April 2011. Semoga bayi itu lahir dengan sehat dan sempurna, serta kelahirannya kelak membawa kebahagiaan baru bagi keluarga.
Harapan saya di tahun 2011 :
Allah SWT akan mengirimkan seorang pria baik hati nan tampan rupawan, soleh, pekerja keras, bertanggungjawab dan berasal dari keluarga baik-baik, yang datang tiba-tiba lalu melamar saya.
Yah… boleh kan berharap jodoh akan datang di tahun depan.
Katanya, setiap orang sudah diciptakan berpasang-pasangan. Kata orang, jodoh nggak akan kemana. Kata orang pula, jodoh tidak usah dicari, dia akan datang sendiri pada waktu yang tepat.
Semoga demikian halnya dengan jodohku. Nggak perlu lama-lama pendekatan alias pacaran, asal cocok secara visi misi ke depan, hayukkk aja langsung ke penghulu. Hahahaha…
Papah pernah berkata, jika sebuah keluarga kehilangan kepala keluarga maka keadaan ekonomi keluarga mau tidak mau akan terpengaruh, beda halnya jika ibu yang terlebih dahulu meninggal. Papah berkata begitu karena berdasarkan pengalamannya dan pengalaman beberapa teman maupun kerabatnya. Papah tidak bisa kuliah sesuai jurusan yang diinginkannya karena harus sambil bekerja membiayai adik-adiknya. Beda dengan kerabatnya, yang Ibunya meninggal namun karena Ayahnya masih mampu membiayai maka anak-anaknya menjadi orang semua. Maksud Papah bukannya menyesali nasibnya, namun hanya memberikan pendapatnya.
Namun kami yakin, hal tersebut Insya Allah tidak akan berpengaruh dalam kehidupan kami ke depannya. Papah pergi setelah anak-anaknya selesai sarjana dan telah bekerja semua, sedangkan Mamah masih memiliki tunjangan pensiun.
Insya Allah kehidupan kami tidak akan kekurangan Pah…
Langganan:
Komentar (Atom)