Selasa, 16 November 2010

Hari-hari tanpanya… (Mengenang Kepergian Papah bagian ke- 2 )

Ikhlas…
Kata itulah yang kini sedang kami usahakan untuk diterapkan dalam kehidupan kami. Meski terkadang muncul rasa kangen akan kehadiran Papah.

Kerinduan bertemu Papah seringkali muncul di saat saya sedang dalam perjalanan.
Mungkin disebabkan karena saya yang sering menemani Papah menghadiri undangan di saat Mamah enggan hadir. Saya pula yang sering diantar jemput oleh Papah, baik saat kuliah maupun saat saya harus menghadiri interview kerja atau tes CPNS. Boleh dibilang saya yang paling sering pergi bareng Papah, meski di perjalanan kami lebih banyak diam. Sifat saya yang pendiam dan tidak banyak omong adalah salah satu sifat Papah yang menurun pada saya.

Seingat saya, terakhir kali makan berdua saja dengan Papah saat awal Januari. Saat itu Papah sedang mengurus acara reuni PIGPP tempat tinggal kami dulu saat masih di Sulawesi. Papah dipercaya mengurus semuanya, saat itu Papah sedang mampir ke kantor menemui beberapa teman lamanya. Papah mengajak saya pulang, lalu kami mampir makan siang di dekat stasiun Cawang. Sedangkan ketika adik saya mentraktir makan di Solaria dengan seluruh anggota keluarga plus pacarnya itu, saya tidak ikut dengan alasan menjaga rumah. Pun ketika di hari libur mereka pergi mencari “pantai” di ujung wilayah Bekasi, saya pun tidak ikut dengan alas an yang sama. Padahal kebersamaan saat bepergian itu sudah lama hilang, semenjak kami, anak-anaknya, sibuk dengan urusan masing-masing.

Menyesal sekali saya sekarang, sudah lama sekali rasanya kami tidak keluar dan hang out atau makan bareng di suatu restoran utuh berlima. Dan saat Papah mengajak mencari cemilan di malam hari : bubur kacang ijo, hanya adik-adik saya yang ikut. Saya di rumah menemani Mamah yang minta diurut.

Sepertinya Papah memang telah berfirasat sebelumnya, sehingga sering mengajak kami bepergian. Di bulan Januari itupun, saat saya terbangun dari tidur, saya melihat Papah sedang mengamati kami bertiga tidur. Pun saat waktunya Subuh, saat Papah pulang dari mesjid, Papah selalu membangunkan kami. Tidak seperti biasanya. Tanda-tanda lainnya, saat pulang dari resepsi pernikahan teman lama kami, dan kami sekeluarga sedang dibalut busana yang bagus, Papah mengajak kami sekeluarga berfoto bersama. Yah, foto keluarga kami terakhir adalah di tanggal 10 Januari 2010. Pada saat resepsi itu, bertemu dengan teman-teman lamanya Papah selalu ikut bila ada yang mengambil gambar. Tampak di sebuah foto, Papah laki-laki sendirian sementara yang lainnya ibu-ibu komplek dan putri-putrinya serta tante-tante karyawati zaman di Sulawesi dulu.

Penyesalan saya semakin bertambah karena Papah sempat menyatakan kekecewaannya karena hingga umurnya saat itu, 61 tahun, belum ada anaknya yang bisa menyetir mobil. Apalagi saat Papah mengeluh akan sakit di perutnya dan kami tidak bisa mengantarnya sendiri, kami terpaksa menghubungi om kami minta diantar ke rumah sakit. Lalu saat pagi harinya Papah kembali merasakan sakit, kembali kami hanya bisa mengantarkannya dengan naik becak menuju rumah sakit terdekat, yang akhirnya membawa Papah merasakan ‘sakit’ yang lebih dalam selama masa perawatan.

Hidup harus terus berjalan...

Oleh karena itu ketika adik bungsu saya, Atta, meminta izin untuk menikah terlebih dahulu, saya mengizinkannya. Tepat 40 hari setelah kepergian Papah, 27 Maret 2010, Atta menikah dengan pilihan hatinya yang memang sudah Papah kenal baik. Dan sekarang mereka sedang berbahagia karena akan segera memiliki momongan.

Adik saya, Pei, yang telah diterima di Kementerian Kehutanan pada 2009 lalu akhirnya mulai bekerja dan pindah ke Bandung pada bulan Juni 2010. Dulu Papah mengira Pei akan ditempatkan di Cirebon, sesuai hasil pengumuman tes CPNS. Kalau saja Papah masih hidup pastinya senang sekali karena akhirnya ada alasan untuk sering-sering ke Bandung.

Mamah yang sangat terpukul dengan kepergian Papah dan pada awalnya selalu tenggelam dalam kesedihan, akhirnya sedikit demi sedikit mulai kembali ceria dan mau keluar rumah. Kini, secara rutin Mamah selalu berdoa dan membaca Surat Yasin setiap selesai sholat Subuh dan Ashar. Untungnya pula kami memiliki tetangga yang baik hati, saat siang hari disaat Mamah sendirian di rumah, mereka secara bergantian berkunjung ke rumah menemani Mamah.

Sementara saya, si sulung, masih terus berharap agar dapat diterima sebagai PNS di tempat saya bekerja sekarang. Papah akan sangat senang bila ada anaknya yang diterima di tempat kerjanya dulu.Tes CPNS tahun ini sudah saya ikuti dan nampaknya harapan saya tidak akan sia-sia mengingat kali ini ada yang ingin ‘membantu’. Namun untuk tesnya sendiri kemarin saya merasa bisa mengerjakannya. Tinggal menunggu dan memohon pertolongan dari Allah SWT.

Akhirnya, karena di tahun ini banyak kejadian yang menyedihkan, saya ingin di tahun 2011 nantinya akan banyak kebahagiaan dan kegembiraan yang menghampiri keluarga kami. Salah satunya adalah hadirnya bayi mungil, keponakan saya, Insya Allah akan lahir di akhir Maret atau awal April 2011. Semoga bayi itu lahir dengan sehat dan sempurna, serta kelahirannya kelak membawa kebahagiaan baru bagi keluarga.

Harapan saya di tahun 2011 :
Allah SWT akan mengirimkan seorang pria baik hati nan tampan rupawan, soleh, pekerja keras, bertanggungjawab dan berasal dari keluarga baik-baik, yang datang tiba-tiba lalu melamar saya.

Yah… boleh kan berharap jodoh akan datang di tahun depan.
Katanya, setiap orang sudah diciptakan berpasang-pasangan. Kata orang, jodoh nggak akan kemana. Kata orang pula, jodoh tidak usah dicari, dia akan datang sendiri pada waktu yang tepat.
Semoga demikian halnya dengan jodohku. Nggak perlu lama-lama pendekatan alias pacaran, asal cocok secara visi misi ke depan, hayukkk aja langsung ke penghulu. Hahahaha…

Papah pernah berkata, jika sebuah keluarga kehilangan kepala keluarga maka keadaan ekonomi keluarga mau tidak mau akan terpengaruh, beda halnya jika ibu yang terlebih dahulu meninggal. Papah berkata begitu karena berdasarkan pengalamannya dan pengalaman beberapa teman maupun kerabatnya. Papah tidak bisa kuliah sesuai jurusan yang diinginkannya karena harus sambil bekerja membiayai adik-adiknya. Beda dengan kerabatnya, yang Ibunya meninggal namun karena Ayahnya masih mampu membiayai maka anak-anaknya menjadi orang semua. Maksud Papah bukannya menyesali nasibnya, namun hanya memberikan pendapatnya.
Namun kami yakin, hal tersebut Insya Allah tidak akan berpengaruh dalam kehidupan kami ke depannya. Papah pergi setelah anak-anaknya selesai sarjana dan telah bekerja semua, sedangkan Mamah masih memiliki tunjangan pensiun.

Insya Allah kehidupan kami tidak akan kekurangan Pah…

Mengenang Kepergian Papah

Tanggal 15 November 2010, sembilan bulan sudah kami hidup tanpa kehadirannya. Perasaan kehilangan masih tetap ada menggelayuti ruang hati kami. Namun kami sadar, kami tidak boleh meratapi nasib dan menyalahkan semua yang terjadi. Kami harus melanjutkan hidup, menggapai cita-cita dan Insya Allah mampu memenuhi segala keinginan beliau, baik yang pernah terucap secara langsung maupun harapan yang tersirat dibalik segala ucapannya.

Oke, kepergian Papah menghadap Yang Maha Illahi tentunya adalah suatu peristiwa paling pahit sepanjang hidup kami sekeluarga, terutama saya dan adik-adik. Kami tidak pernah menyangka Papah akan secepat itu pergi meninggalkan kami, tiga anak perempuannya yang tentunya masih membutuhkan bimbingan beliau. Kepergian beliau tentunya juga dirasakan oleh om-om dan tante-tante kami (adik-adik Papah), karena Papah telah menjalankan tugas sebagai seorang kakak sekaligus “ayah” bagi adik-adiknya.

Saya masih ingat betul dengan wajah om saya saat berada di ambulance. Dihadapan jenazah Papah dan dihadapan kami bertiga yang terduduk diam selama perjalanan dari rumah sakit menuju rumah duka, raut wajah om saya meskipun berusaha bersikap tegar dengan berusaha tidak menangis, namun air mata yang tak henti-hentinya keluar memberikan gambaran betapa berartinya seorang Papah bagi om saya itu. Sebagai anak “bontot” di keluarga, yang tidak pernah mengenal ayah kandungnya sendiri karena Eyang Kakung pergi menghadap Illahi disaat om saya masih berusia 3 tahun, saya memahami betul sosok Papah bagi om saya ini. (Keterangan mengenai keluarga saya selengkapnya sudah pernah saya tulis pada postingan tahun lalu)

Kepergian Papah ini bagi kami juga melengkapi tugasnya yang terakhir, yaitu mengantarkan Eyang Putri kami. Yah, Eyang Puteri kami meninggal tepat 15 hari sebelum kepergian Papah, 30 Januari 2010. Papah masih sempat mengantarkan Eyang hingga ke liang lahat, walaupun saat itu Papah sudah sakit. Papah pula yang telah memesan dua kavling kuburan yang saling bersebelahan di pemakaman dekat rumah kami, ketika Eyang masih dalam keadaan koma di rumah sakit. Papah pula yang meyakini bahwa Eyang akan meninggal keesokkan harinya ketika kami mengunjungi Eyang di ICU rumah sakit pada Jumat malam 29 Januari 2010. Saya masih ingat betul ketika Papah kembali naik ke atas, setelah sebelumnya masuk ke liang lahat Eyang, lalu terduduk lemas sambil menatap makam Eyang. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu. Wallahualam…

Papah memang sangat dekat dengan Eyang Putri.
Papah yang mengawal Eyang Putri saat pindah dari Sumatera ke Jawa ketika Eyang Kakung sakit. Papah pula yang setia menemani Eyang Putri di Jakarta selama sebulan lebih ketika Eyang Kakung dirawat di RS Persahabatan. Papah membantu Eyang Putri menjadi tulang punggung keluarga di saat adik-adiknya masih bersekolah. Papah juga yang selalu menggantikan peran Eyang Kakung saat menjadi wali nikah bagi adik-adik perempuannya. Papah juga yang menemani Eyang Putri saat umroh ke Mekah dan akhirnya mampir ke rumah tante di Roma pada tahun 1996.

Yah...Papah sayang sekali dengan Eyang Putri, ibu kandungnya itu. Papah selalu mengawal Eyang Putri kemana saja, hingga akhirnya dipanggil Yang Maha Kuasa pun Papah menemaninya. Semoga Papah dan Eyang Putri mendapat tempat yang layak disisi Allah SWT dan diterima segala amal ibadahnya. Amin
Ketika itu Mamah sempat bertanya, “Ngapain pesan dua kuburan?”
Papah menjawabnya dengan bercanda, “ Ya buat kamu atau saya, siapa yang duluan. Kasihan Eyang disini sendirian”.

Apakah itu firasat atau ?

Mengenai tempat pemakaman Eyang Putri sudah jauh-jauh hari menjadi perdebatan di keluarga besar kami. Oleh karena Eyang Kakung dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Jurug di Surakarta, tidak mungkin Eyang Putri dimakamkan berdampingan. Dulu sebelum pikun, Eyang pernah berpesan ingin dimakamkan di Gemolong, Jawa Tengah, tanah kelahirannya. Disanalah makam Ibu dan Bapaknya Eyang Putri serta keluarga besarnya. Namun ada juga yang menginginkan Eyang dimakamkan di Sragen ataupun Jakarta, dengan alasan kepraktisan. Tidak ada yang mengira bahwa Eyang akhirnya akan dimakamkan di TPU di dekat kompleks perumahan saya.

Pertemuan terakhir yang dihadiri oleh 9 dari 10 anak-anak Eyang terjadi tepat dua minggu sebelum kepergian Eyang. Saat itu Eyang masih sehat wal afiat walaupun memang sudah pikun. Adik-adik Papah yang dari luar kota turut menghadiri acara kumpul keluarga tersebut, bahkan tante saya yang khusus datang dari Roma melakukan ritual penghormatan kepada Eyang Putri. Tante saya mencuci kaki Eyang dan meminum airnya. Menandakan kasih sayang seorang anak terhadap Ibu yang melahirkannya. Saat itu tante saya, yang merupakan anak perempuan terkecil di keluarga, telah mengikhlaskan apabila Eyang dipanggil Yang Kuasa dan tidak berada di sisinya.

Rupanya hari itu adalah pertemuan terakhir keluarga besar kami secara lengkap.

Jumat, 08 Januari 2010

Umur Bertambah = Tahun Baru

Hari ini aku genap berumur 27 tahun delapan hari..Tak terasa waktu berjalan begitu cepat..Baru kemarin rasanya lulus kuliah dan wisuda bersama teman-teman..Saat ku terlihat paling muda diantara yang lainnya..Usia muda yang siap menatap hari esok yang cerah..Usia muda yang penuh cita cita dan semangat 45 dalam mengarungi kehidupan..Kini, kemanakah semua itu? Kemana perginya kobaran semangat yang menggelora kalbu? Dimana harus kutemukan sesuatu ataukah seseorang yang mampu menggetarkan hati dan membuatku bergelora kembali..Please, help me !