Selasa, 16 November 2010

Mengenang Kepergian Papah

Tanggal 15 November 2010, sembilan bulan sudah kami hidup tanpa kehadirannya. Perasaan kehilangan masih tetap ada menggelayuti ruang hati kami. Namun kami sadar, kami tidak boleh meratapi nasib dan menyalahkan semua yang terjadi. Kami harus melanjutkan hidup, menggapai cita-cita dan Insya Allah mampu memenuhi segala keinginan beliau, baik yang pernah terucap secara langsung maupun harapan yang tersirat dibalik segala ucapannya.

Oke, kepergian Papah menghadap Yang Maha Illahi tentunya adalah suatu peristiwa paling pahit sepanjang hidup kami sekeluarga, terutama saya dan adik-adik. Kami tidak pernah menyangka Papah akan secepat itu pergi meninggalkan kami, tiga anak perempuannya yang tentunya masih membutuhkan bimbingan beliau. Kepergian beliau tentunya juga dirasakan oleh om-om dan tante-tante kami (adik-adik Papah), karena Papah telah menjalankan tugas sebagai seorang kakak sekaligus “ayah” bagi adik-adiknya.

Saya masih ingat betul dengan wajah om saya saat berada di ambulance. Dihadapan jenazah Papah dan dihadapan kami bertiga yang terduduk diam selama perjalanan dari rumah sakit menuju rumah duka, raut wajah om saya meskipun berusaha bersikap tegar dengan berusaha tidak menangis, namun air mata yang tak henti-hentinya keluar memberikan gambaran betapa berartinya seorang Papah bagi om saya itu. Sebagai anak “bontot” di keluarga, yang tidak pernah mengenal ayah kandungnya sendiri karena Eyang Kakung pergi menghadap Illahi disaat om saya masih berusia 3 tahun, saya memahami betul sosok Papah bagi om saya ini. (Keterangan mengenai keluarga saya selengkapnya sudah pernah saya tulis pada postingan tahun lalu)

Kepergian Papah ini bagi kami juga melengkapi tugasnya yang terakhir, yaitu mengantarkan Eyang Putri kami. Yah, Eyang Puteri kami meninggal tepat 15 hari sebelum kepergian Papah, 30 Januari 2010. Papah masih sempat mengantarkan Eyang hingga ke liang lahat, walaupun saat itu Papah sudah sakit. Papah pula yang telah memesan dua kavling kuburan yang saling bersebelahan di pemakaman dekat rumah kami, ketika Eyang masih dalam keadaan koma di rumah sakit. Papah pula yang meyakini bahwa Eyang akan meninggal keesokkan harinya ketika kami mengunjungi Eyang di ICU rumah sakit pada Jumat malam 29 Januari 2010. Saya masih ingat betul ketika Papah kembali naik ke atas, setelah sebelumnya masuk ke liang lahat Eyang, lalu terduduk lemas sambil menatap makam Eyang. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu. Wallahualam…

Papah memang sangat dekat dengan Eyang Putri.
Papah yang mengawal Eyang Putri saat pindah dari Sumatera ke Jawa ketika Eyang Kakung sakit. Papah pula yang setia menemani Eyang Putri di Jakarta selama sebulan lebih ketika Eyang Kakung dirawat di RS Persahabatan. Papah membantu Eyang Putri menjadi tulang punggung keluarga di saat adik-adiknya masih bersekolah. Papah juga yang selalu menggantikan peran Eyang Kakung saat menjadi wali nikah bagi adik-adik perempuannya. Papah juga yang menemani Eyang Putri saat umroh ke Mekah dan akhirnya mampir ke rumah tante di Roma pada tahun 1996.

Yah...Papah sayang sekali dengan Eyang Putri, ibu kandungnya itu. Papah selalu mengawal Eyang Putri kemana saja, hingga akhirnya dipanggil Yang Maha Kuasa pun Papah menemaninya. Semoga Papah dan Eyang Putri mendapat tempat yang layak disisi Allah SWT dan diterima segala amal ibadahnya. Amin
Ketika itu Mamah sempat bertanya, “Ngapain pesan dua kuburan?”
Papah menjawabnya dengan bercanda, “ Ya buat kamu atau saya, siapa yang duluan. Kasihan Eyang disini sendirian”.

Apakah itu firasat atau ?

Mengenai tempat pemakaman Eyang Putri sudah jauh-jauh hari menjadi perdebatan di keluarga besar kami. Oleh karena Eyang Kakung dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Jurug di Surakarta, tidak mungkin Eyang Putri dimakamkan berdampingan. Dulu sebelum pikun, Eyang pernah berpesan ingin dimakamkan di Gemolong, Jawa Tengah, tanah kelahirannya. Disanalah makam Ibu dan Bapaknya Eyang Putri serta keluarga besarnya. Namun ada juga yang menginginkan Eyang dimakamkan di Sragen ataupun Jakarta, dengan alasan kepraktisan. Tidak ada yang mengira bahwa Eyang akhirnya akan dimakamkan di TPU di dekat kompleks perumahan saya.

Pertemuan terakhir yang dihadiri oleh 9 dari 10 anak-anak Eyang terjadi tepat dua minggu sebelum kepergian Eyang. Saat itu Eyang masih sehat wal afiat walaupun memang sudah pikun. Adik-adik Papah yang dari luar kota turut menghadiri acara kumpul keluarga tersebut, bahkan tante saya yang khusus datang dari Roma melakukan ritual penghormatan kepada Eyang Putri. Tante saya mencuci kaki Eyang dan meminum airnya. Menandakan kasih sayang seorang anak terhadap Ibu yang melahirkannya. Saat itu tante saya, yang merupakan anak perempuan terkecil di keluarga, telah mengikhlaskan apabila Eyang dipanggil Yang Kuasa dan tidak berada di sisinya.

Rupanya hari itu adalah pertemuan terakhir keluarga besar kami secara lengkap.

Tidak ada komentar: