Sabtu, 23 Februari 2008

My Dad’s Story of Life

Ayahku, asli Jawa Tengah tepatnya dari kota Solo. Sebagai anak pertama dari sepuluh bersaudara yang sudah yatim sejak remaja, ayahku ini tentunya sangat bertanggungjawab terhadap keluarganya. Kehidupan yang telah dijalani tidaklah mudah karena beratnya beban yang harus ditanggung.
Bayangkan saja, di saat gejolak mudanya masih menggelora, di saat baru saja mengecap bangku kuliah di jurusan arsitektur di sebuah universitas negeri di Padang, di saat sedang asyik-asyiknya menikmati hidup sebagai seorang anak kepala polisi Batusangkar, harus menghadapi situasi sulit.

Ehmmm, ayahku sering bercerita betapa senangnya dahulu ia dengan kehidupannya sebagai anak polisi. Ayahku jadi sering berpindah-pindah mengikuti ayahnya. Sebagai anak tertua, ayahku yang lebih mengingat dengan jelas sosok Eyang Kakungku sebagai Kepala Polisi. Bagaimana keluarga mereka dihormati orang, betapa indah kehidupan keluarga mereka walaupun Eyang Putriku selalu repot mengurus anak-anaknya yang banyak.
Banyak pengalaman menyenangkan dan mengesankan yang masih terekam oleh ingatan ayahku kala itu. Contohnya, bagaimana ayahku harus sembunyi-sembunyi belajar menyetir mobil pertama kali di pantai di daerah Padang. Atau saat ayahku yang masih kecil harus mengayuh sepeda sedemikian jauh jarak KarangAnyar - Solo.


Kembali lagi….
Saat di Batusangkar, Eyang Kakungku sakit keras dan harus segera di bawa kembali ke Jakarta. Eyang Kakungku, yang seorang kepala polisi, akhirnya tutup usia di umur 40 an tahun di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di kota kelahirannya Solo.

Saat meninggal dunia, adik ayahku yang paling kecil masih berusia 3 tahun. Sebagai anak pertama, ayahku tentunya banyak berkorban demi keluarganya. Ayahku akhirnya meninggalkan kuliahnya dan memutuskan untuk mencari pekerjaan di Jakarta.. Eyang Putriku kembali tinggal di rumah Sragen, namun ada salah satu adik ayahku (om aku) yang akhirnya diasuh oleh PakDe-nya di Yogyakarta. Keluarga yang harmonis itu akhirnya harus saling terpisah satu sama lain.

Untuk membantu keluarga,ayahku melamar kerja ke kantor pemerintah di Jakarta dan diterima. Untuk menghemat biaya hidup di Jakarta, ayahku tinggal di rumah saudara. Berpindah-pindah mulai dari rumah BuDe-nya di Jl Saharjo sampai ke rumah PakDe-nya di Jl Brawijaya. Selain itu ayahku juga kembali melanjutkan pendidikannya, ia mengambil kuliah S1 jurusan hukum di Universitas Indonesia. Saat itu kampus UI semuanya masih di Salemba.

Begitulah kehidupan ayahku yang pada akhirnya menjadi tulang punggung keluarga disamping adik-adik lelakinya yang telah beranjak dewasa yang membantu bekerja dan juga Eyang Putri yang masih menerima uang pensiunan. Ayahku inilah yang telah membantu menyekolahkan adik-adiknya sehingga menjadi berhasil seperti sekarang. Adik-adik yang perempuannya dibantu bersekolah di sekolah kebidanan dan juga sekolah sekretaris. Mereka juga menikah muda untuk meringankan beban keluarga. Sedangkan dua adik laki-laki ayahku yang paling bungsu tetap tinggal bersama Eyang Putri dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.


Alhamdulillah kehidupan keluarga ayahku hari demi hari semakin membaik. Apalagi saat ini, berkat bantuan ayahku juga yang membantu menyekolahkan kedua adiknya tersebut hingga menamatkan kuliahnya, mereka telah menjadi orang yang berhasil.

My Mom’s Story of Life

Ibuku, asli Jawa Barat. Ibuku anak pertama di keluarganya. Ibuku punya 7 adik kandung dan 3 adik tiri. Hidup ibuku ini tak kalah beratnya. Tinggal di Bandung sampai lulus SMEA kemudian ibuku merantau ke ibukota untuk mencari pekerjaan. Ibuku tinggal dengan keluarga Mbah-nya. Kebetulan di rumah Mbah-nya ini tidak ada anak perempuan, jadilah ibuku anak perempuan satu-satunya diantara 4 anak laki-laki Mbah.

Belum lama di ibukota, ibuku harus menerima kenyataan bahwa ibunya sakit dan akhirnya meninggal dunia. Sebagai anak tertua yang sudah mulai dewasa, ibuku kembali ke Jakarta dan tetap tinggal di rumah Mbah sambil mencari pekerjaan demi membantu kehidupan keluarganya. Apalagi usaha Aki-ku saat itu mengalami kebangkrutan.

Sakitnya Nini-ku sehingga harus dirawat di RS Boromeus Bandung menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Namun yang lebih membuat keadaan ekonomi keluarga menjadi semakin terpuruk adalah karena pemerintah mengeluarkan kebijakan penurunan mata uang rupiah (uang Rp 1.000,00 menjadi Rp 1,00). Akibatnya Aki mulai mengurangi produksinya dan terpaksa menjual mesin-mesin di pabriknya yang pada akhirnya membuatnya menutup pabrik sepatu itu untuk selama-lamanya.

Sedih mendengarnya, karena seperti yang pernah diceritakan ibuku bahwa pabrik sepatu itu walaupun usaha rumahan kecil-kecilan tapi sudah memiliki pelanggan (istilahnya : pasarannya lumayan baik ). Jadi sekarang, kalau lagi jalan-jalan ada sepatu / sandal yang lucu-lucu, ibuku sering berkata,” Kayak sepatu Aki dulu”.
Aku jadi membayangkan bagaimana kalau usaha sepatu Aki itu masih bertahan sampai sekarang, wah….pastinya aku bisa punya banyak sepatu yang lucu-lucu dan turut senang pastinya karena memiliki outlet di Bandung yang tentunya akan ramai setiap akhir pekan.


Hahaha…hahaha…. impianku memang ingin membuka usaha. Usaha apa saja, tapi tentunya yang membuatku senang menjalaninya. Contohnya saja punya usaha di bidang boga (makanan) atau punya toko buku. Doakan ya, semoga bisa terwujud di kemudian hari.

Ehmm, kembali ke cerita kehidupan keluarga ibuku. Sepeninggal Nini dan penutupan usahanya, Aki lalu menikah lagi dan memiliki 3 orang anak lagi. Aki pun pindah dari Bandung mengikuti istri barunya.
Tinggallah adik-adik ibuku sendirian di Bandung. Namun mereka tidak sendiri karena banyak saudara yang tinggal dekat rumah juga. Jadi, mau tidak mau ibuku dan saudaranya yang telah besar pun pada akhirnya membantu perekonomian keluarga.

Selanjutnya kehidupan mereka mendadak berubah, ketiadaan orang tua dan biaya yang memadai membuat saudara –saudara ibuku harus puas hanya berpendidikan SMA. Kedua tanteku menikah muda, omku ada yang tidak meneruskan sekolah dan pergi merantau mencari pekerjaan. Omku yang satu lagi mengikuti saran ibuku yang sambil bekerja juga melanjutkan pendidikan lagi sehingga dapat menamatkan S1 nya dan saat ini kehidupannya menjadi lebih baik. Ibuku sendiri tetap tinggal di rumah Mbah dan mulai bekerja di kantor pemerintah sampai kemudian bertemu ayahku di sana.


Ya begitulah sekelumit kisah hidup ibuku yang membuatnya menjadi pribadi yang mandiri. Berjuang membantu keluarga

My Mom and Dad

Ayahku, asli Jawa Tengah dari Sragen (Eyang Kakung dari Solo-Eyang Putri dari Gemolong, tapi besar di Sragen). Ibuku, asli Jawa Barat, kalau ditanya dari daerah mana, ibuku pasti akan menjawab “Bandung” (karena sedari kecil tinggal disana dan tidak mengetahui dengan jelas silsilah keluarganya; Mbah-nya ibuku ini ada juga yang dari Rajapolah, Tasikmalaya).

Namun sekarang kalau ke Bandung, kami hampir dipastikan selalu tinggal di penginapan. Selama ini kalau ke Bandung selain jalan-jalan, kami juga nyekar ke makam Nini-ku (ibunya ibuku) di belakang jalan Pajajaran (aku lupa namanya). Ada juga sebenarnya saudara jauh ibuku, tapi terkadang saja kami mampir ke sana. Ibuku dulu tinggal di gang Mukalmi di Jl Jend Sudirman Bandung (dekat pasar Andir).

Perbedaan budaya diantara kedua orang tuaku, mau tak mau membawa dampak tersendiri bagi kehidupan kami sekeluarga.
Kedua orang tuaku menurutku termasuk jenis orang tua yang masih bersikap konservatif terhadap anak-anaknya. Mereka memang tidak pernah memaksakan kehendak kepada kami anak-anaknya, namun kesan yang aku rasakan, sikap mereka membuat adanya jarak diantara kami. Sebagian orang lain mungkin senang karena orang tuanya dapat bersikap selayaknya teman kepada anaknya, sehingga mereka bebas bercerita apa saja. Hal ini yang tidak dapat kurasakan di rumah, mungkin sebenarnya mereka tidak bermaksud begitu namun kesan yg kudapat seperti itu. Akhirnya aku merasa “tidak dekat” secara personal kepada mereka, but maybe itu hanya karena memang sifatku yg tertutup.

Oh ya, kedua orang tuaku ini merupakan abdi negara sesungguhnya. Ayah dan ibuku telah bekerja menjadi PNS di sebuah departemen selama kurang lebih 30 tahun sampai saat pensiunnya. Kehidupan kami biasa-biasa saja, sebagai anak seorang PNS yang memiliki penghasilan pas-pas an tentunya aku sudah bersyukur sekali kami bertiga bisa sekolah sampai perguruan tinggi.

Yupp…orang tuaku termasuk pasangan yang telat menikah, padahal mereka telah saling mengenal satu sama lain alias berpacaran selama 10 tahun lamanya. Karena itu mereka belum mempunyai cucu seperti teman-teman seumuran mereka lainnya. Namun tentunya itu ada alasannya, tunggu saja akan aku ceritakan nanti.

Senin, 11 Februari 2008

About Me

Izinkanlah aku memperkenalkan diri terlebih dulu.
Namaku Etta.
Aku anak pertama dari tiga bersaudara yg semuanya perempuan. Adikku bernama Pei dan yang ketiga, Atta.
Kami tiga bersaudara ini, selisih umurnya tidak begitu jauh yaitu 25, 23 dan 22 tahun. Jadi bisa dibayangkan sendiri betapa heboh dan ramenya rumah ini kalau semuanya berkumpul…

Etta merupakan sarjana ekonomi dari sebuah universitas swasta di Jakarta. Namun sayangnya hingga saat ini aku termasuk salah satu penyumbang tingginya angka pengangguran di republik ini.
Aku lulus tahun 2005, sempat bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan konsultan yang bergerak di bidang teknik. Setelah itu aku juga pernah magang sebagai karyawan di sebuah di koperasi kantor pemerintahan. Tapi bukan di kantor orang tuaku lho…
Aku berhenti karena adanya sistem kontrak di tempat kerja. Jadi setelah enam bulan, aku harus pindah ke tempat lain karena kontrak tidak dapat diperpanjang.

Saat ini kembali aku harus bersabar, karena ternyata lagi-lagi aku gagal menjadi PNS, padahal tes tertulis sudah aku lewati. Berbeda dengan departemen lain yang hanya mengandalkan tes tertulis, di depbudpar setelah lolos tes tertulis aku juga harus mengikuti tes wawancara. Walaupun sainganku hanya 3 orang, tetapi tetap saja aku gagal.

Selama ini aku menyadari bahwa salah satu kelemahan terbesarku dalam mendapatkan suatu pekerjaan adalah pada saat interview kerja. Menurutku, ini semua karena sifatku yang cenderung introvert. Jadi, aku tidak bisa menunjukkan semua kelebihanku yang tersembunyi di balik bayanganku sendiri..

Orang-orang selalu mengatakan bahwa aku adalah seorang yang pendiam. Memang sifat itu yang lebih terkenal dari diriku, padahal aku juga nggak ingin dikenal seperti itu. Banyak hal yang orang lain nggak tahu tentang diriku yang ingin sekali aku tunjukkan. Tapi masalahnya, aku terkadang merasa kurang berani, nggak PD lah dsb. Sifat jelek itu jugalah yang akhirnya merugikanku sendiri.

Semoga seiring waktu yang berjalan dan semakin banyak pengalamanku ,terutama kegagalan yang aku alami, dalam mendapatkan suatu pekerjaan, dapat membantuku dan memperkuat diriku agar mampu berubah menjadi sosok pribadi yang menarik bagi orang lain.

Itulah sekilas gambaran tentang diriku. Alhamdulillah, saat ini pun aku sudah banyak belajar dan mencoba mengubah diri menjadi sedikit lebih terbuka pada orang lain. Jika Anda mau membagi kiat-kiat untuk menjadi pribadi yang baik dan menarik, aku akan senang menerimanya.

My first Posting

Assalammualaikum….

Senang rasanya akhirnya aku bisa juga memiliki sebuah blog yang dapat menampung semua ide dan menuangkan segala perasaan yg selama ini hanya terpendam dihati dan pikiranku saja.

Selama ini aku hanya senang membaca blog orang lain dan belum terpikirkan untuk membuat sebuah blog tentang diri sendiri…
Ini disebabkan karena aku merasa hidupku biasa-biasa saja, tidak seperti Raditya Dika yg kehidupannya aneh bin ajaib sehingga layak dikonsumsi oleh publik.
Namun dibalik itu aku juga sadar bahwa kehidupan yg biasa-biasa saja bisa menarik juga untuk diceritakan dan sebuah blog bukan hanya tempat untuk berbagi cerita, namun dengan menulis blog dapat melatih kemampuan seseorang untuk menulis.

Saat tiba-tiba muncul keberanian dan ada kesempatan, akhirnya kesampaian sudah diriku membuat sebuah blog.
Karena itu mohon maklum kalau ada kekurangan disana sini, namanya juga masih belajar. Maaf juga karena aku masih belum berani memakai identitas asli, namun namaku yang kusebut disini benar-benar merupakan salah satu dari beberapa nama panggilanku selama ini.