Bayangkan saja, di saat gejolak mudanya masih menggelora, di saat baru saja mengecap bangku kuliah di jurusan arsitektur di sebuah universitas negeri di Padang, di saat sedang asyik-asyiknya menikmati hidup sebagai seorang anak kepala polisi Batusangkar, harus menghadapi situasi sulit.
Ehmmm, ayahku sering bercerita betapa senangnya dahulu ia dengan kehidupannya sebagai anak polisi. Ayahku jadi sering berpindah-pindah mengikuti ayahnya. Sebagai anak tertua, ayahku yang lebih mengingat dengan jelas sosok Eyang Kakungku sebagai Kepala Polisi. Bagaimana keluarga mereka dihormati orang, betapa indah kehidupan keluarga mereka walaupun Eyang Putriku selalu repot mengurus anak-anaknya yang banyak.
Banyak pengalaman menyenangkan dan mengesankan yang masih terekam oleh ingatan ayahku kala itu. Contohnya, bagaimana ayahku harus sembunyi-sembunyi belajar menyetir mobil pertama kali di pantai di daerah Padang. Atau saat ayahku yang masih kecil harus mengayuh sepeda sedemikian jauh jarak KarangAnyar - Solo.
Kembali lagi….
Saat di Batusangkar, Eyang Kakungku sakit keras dan harus segera di bawa kembali ke Jakarta. Eyang Kakungku, yang seorang kepala polisi, akhirnya tutup usia di umur 40 an tahun di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di kota kelahirannya Solo.
Saat meninggal dunia, adik ayahku yang paling kecil masih berusia 3 tahun. Sebagai anak pertama, ayahku tentunya banyak berkorban demi keluarganya. Ayahku akhirnya meninggalkan kuliahnya dan memutuskan untuk mencari pekerjaan di Jakarta.. Eyang Putriku kembali tinggal di rumah Sragen, namun ada salah satu adik ayahku (om aku) yang akhirnya diasuh oleh PakDe-nya di Yogyakarta. Keluarga yang harmonis itu akhirnya harus saling terpisah satu sama lain.
Untuk membantu keluarga,ayahku melamar kerja ke kantor pemerintah di Jakarta dan diterima. Untuk menghemat biaya hidup di Jakarta, ayahku tinggal di rumah saudara. Berpindah-pindah mulai dari rumah BuDe-nya di Jl Saharjo sampai ke rumah PakDe-nya di Jl Brawijaya. Selain itu ayahku juga kembali melanjutkan pendidikannya, ia mengambil kuliah S1 jurusan hukum di Universitas Indonesia. Saat itu kampus UI semuanya masih di Salemba.
Begitulah kehidupan ayahku yang pada akhirnya menjadi tulang punggung keluarga disamping adik-adik lelakinya yang telah beranjak dewasa yang membantu bekerja dan juga Eyang Putri yang masih menerima uang pensiunan. Ayahku inilah yang telah membantu menyekolahkan adik-adiknya sehingga menjadi berhasil seperti sekarang. Adik-adik yang perempuannya dibantu bersekolah di sekolah kebidanan dan juga sekolah sekretaris. Mereka juga menikah muda untuk meringankan beban keluarga. Sedangkan dua adik laki-laki ayahku yang paling bungsu tetap tinggal bersama Eyang Putri dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Alhamdulillah kehidupan keluarga ayahku hari demi hari semakin membaik. Apalagi saat ini, berkat bantuan ayahku juga yang membantu menyekolahkan kedua adiknya tersebut hingga menamatkan kuliahnya, mereka telah menjadi orang yang berhasil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar