Pepatah Jawa terkenal itu, yang berbunyi: Witing Tresno Jalaran Suko Kulino
(bener nggak ya tulisannya?? Aku ini orang Jawa yang nggak bisa bahasa Jawa, alasannya : karena orangtua yang berbeda budaya dan aku dibesarkan di luar Jawa jadi tidak terbiasa ngomong Jowo…)
membuktikan bahwa memang benar bahwa perasaan cinta dapat timbul karena sering bertemu dan terbiasa bersama..
Begitulah ayah dan ibuku kemudian memutuskan menjalin hubungan cinta. Namun kisah cintanya mungkin berbeda dengan kisah cinta pemuda-pemudi jaman sekarang yang sering menghabiskan waktu dengan menonton di bioskop atau makan-makan.
Bukannya sombong lho, tapi memang benar ayahku termasuk pemuda yang tampan saat itu (pokoknya nggak jelek-jelek banget, bisa dibanggakan lah). Dilihat dari foto –foto lawas, perawakannya mirip-mirip Deddy Mizwar jaman dulu, wajahnya mirip Juwono Sudarsono (Menteri Pertahanan kalau nggak salah, kenal kan? ). Kalau saja dulu ayahku sabar menunggu, mungkin sekarang sudah ngetop seperti Sophan Sopiaan dan Roy Marten. Hihihihi……
Ayahku pernah melihat ada syuting film dan lagi ada casting pemain. Ada niat untuk jadi artis, ayahku ikut-ikutan berdesakan bersama orang-orang, tapi mesti menunggu lama untuk casting. Lalu ayahku tidak sabaran, karena mesti kembali ke kantor, akhirnya pergi deh…Bye bye bye
Kembali lagi…
Badan ayahku yang tinggi itulah mungkin salah satu faktor yang membuat ibuku jatuh hati. Maklum, ibuku memang dari keluarga yang memiliki keturunan berbadan pendek. Namun begitu, saat muda, ibuku ini termasuk modis dan gaya. Orang Bandung euy…kan terkenal pintar bergaya . Bahkan harus diakui lebih gaya dan fashionable dibanding anak-anaknya sekarang. Ibuku dulu kecil mungil lho, kayak Rossa. Beda jauh sama anak-anaknya sekarang yang montok-montok. Eyang Putriku malah menyamakan ibuku dengan penyanyi ngetop jaman dulu ( Iis Sugianto atau ….lupa namanya, pokoknya adik dari istrinya Ebiet G. Ade)
Lihat dari foto-fotonya aja, busyet….ibuku ini rupanya pengikut mode kala itu. Pada salah satu foto, ibuku mengenakan : rok mini, kemeja putih, sepatu sandal yang berhak 12 cm lengkap dengan kacamata hitam gede dan bergaya bak model…Eh tapi kalau dilihat lebih jelas ternyata di foto itu ibuku berdiri di atas jembatan dengan latar belakang jalanan ibukota, tepatnya di Jalan Thamrin yang saat itu masih lengang kendaraan. PD banget ya…pasti dilihat orang-orang disangka model majalah.
Ehmmm, back again to the love story…
Sebenarnya aku nggak terlalu tahu banyak tentang kisah cinta mereka. Yang aku tahu mereka pacaran lama banget, kurang lebih 10 tahunan. Bukan keinginan ibuku (siapa juga perempuan yang mau telat menikah?), tetapi karena ayahku ingin menikah setelah lulus kuliah dan menyandang gelar Sarjana (lulus kuliah aja lamaaaa banget, sambil bekerja juga sih).
Jadi teringat Bung Hatta yang ingin menikah setelah Indonesia merdeka.
Selain itu juga karena ayahku tulang punggung keluarga, ia ingin adik-adik perempuannya yang lebih dahulu menikah.
Ibuku setia juga ya, padahal menurut ceritanya, ada juga yang naksir ibuku ini. Malah orang itu lulusan teknik dan kalau malam minggu suka datang ke rumah Mbah sebelum ayahku datang, tapi ibuku sering nggak mau kalau diajak pergi olehnya. Mbahnya ibuku ini suka memanas-manaskan suasana dengan menanyakan kapan menikah dengan ayahku.
But, pada akhirnya setelah wisuda ayahku di awal tahun 1981, jadilah orangtuaku menikah pada Oktober 1981 setelah berkenalan pertama kali di tahun 1969. Karena itulah mengapa mereka belum mempunyai cucu di saat teman-teman seangkatannya di kantor sudah menggendong-gendong cucu.
Mmmm beberapa kisah seputar hubungan mereka :
Menurut ibuku, ayahku ini orangnya agak gengsian. Pernah suatu ketika ayahku terlihat pucat, ibuku menanyakan sudah makan atau belum. Ayahku berkata belum lapar, padahal ibuku tahu sendiri bahwa ayah sudah nggak punya uang lagi karena habis untuk dikirim ke adik-adiknya. Ibuku yang sebal karena tahu ayahku gengsi padanya, melempar nasi bungkus ke meja. Dan ternyata memang benar bahwa ayahku itu seringkali tidak makan demi melakukan pengiritan uang. Ayahku ini, selain tinggal di tempat saudara terkadang juga harus kost, memilih kost di tempat yang benar-benar buruk saking ingin berhematnya…Jelek banget…. Bayangkan saja, kamar mandi nggak ada jambannya, jadi kalau mau buang air besar harus ke kali. Ihhh…
Alasannya, apalagi kalau nggak buat keluarganya. Adiknya, terutama yang perempuan sering menulis surat meminta uang tambahan untuk kursus ini itu. Tapi ayahku ikhlas dan tidak mengharap apa-apa, sebaliknya ibuku yang sering sebal karena walaupun telah menikah tapi ayahku masih rajin mengirim uang kepada adiknya dengan jumlah yang besar. Jadilah terpaksa ibuku ini harus mengeluarkan uang dari gajinya untuk tambahan kebutuhan kami sehari-hari.
(Pantas saja ibuku ini tidak memiliki tabungan dan banyak perhiasan seperti umumnya wanita karir lain atau teman-teman kantornya yang lain. Aku kira ibuku tidak suka perhiasan, tetapi ternyata karena gajinya sendiri terkadang habis untuk kebutuhan sehari-hari)
Namun sekarang, alhamdulillah adik-adik ayahku ini banyak yang telah menjadi orang yang sukses di karirnya. Adik bungsunya saja telah menjadi General Manager sebuah perusahaan asuransi asing. Padahal ia hanya Sarjana Peternakan, namun karena kerja kerasnya ia berhasil menekuni bidangnya yang sekarang. Dan yang lebih mengharukan mereka ini tetap menghormati ayahku dan tetap mengingat masa lalu sehingga mereka sering membantu ayahku di saat-saat kami membutuhkan.
Thanks to Allah SWT…- Ayahku ini pada masa kuliah seangkatan dengan ayahnya Ivan Gunawan (siapa yang nggak kenal perancang ini??) yang bernama Gunawan. Jadi ayah dan ibuku mengetahui kisah pak Gunawan ini dengan seorang wanita yang bernama Erna. Kebetulan ibuku yang tinggal di rumah Mbah, di Jl Lamandau, juga mengenal Erna yang sama-sama tinggal di daerah Kebayoran Baru. Yup .… Erna ini adalah adiknya desainer kondang, Adjie Notonegoro. Jadi nggak heran kalau Madam Ivan memiliki bakat yang sama dengan sang paman.
Tetapi sayangnya nasib ayahku dan Pak Gunawan ini sangat jauh berbeda. Ayahku selesai kuliah tetap mau bertahan di Depertemen PU dan menjadi PNS, padahal seperti yang diketahui Sarjana Hukum di Departemen PU kondisinya akan berbeda dibanding jika ayahku melamar ke Departemen Kehakiman atau Departemen lain yang yang lebih membutuhkan lulusan hukum (ayahku menjadi tidak bisa mengalami peningkatan karir, karena di PU lebih membutuhkan lulusan teknik)
Berbeda nasib dengan pak Gunawan yang bekerja di Departemen Luar Negeri dan menjadi diplomat. Dengar-dengar saat ini Pak Gunawan adalah Konsulat Jenderal RI di Kanada. Semenjak lulus kuliah, ayah dan ibuku tidak pernah mengetahui kabar pak Gunawan dan Erna lagi karena mereka selalu tinggal di luar negeri. Sampai pada suatu saat muncullah sang Madam Ivan di dunia entertainment Indonesia.
Namun yang aneh dan mengherankan, baik orangtuaku maupun pak Gunawan dan Erna, sama-sama memiliki anak yang lahir pada tanggal yang sama….Yaaaaa………… ini kalau nggak salah. Pada acara Super Mama Seleb Konser, Madam Ivan menyebutkan kalau ulang tahunnya tanggal 31 Desember. Berarti sama dengan aku donk. Tahunnya yg beda Ivan lahir 1981 dan aku setahun lebih muda…
Namun yang benar-benar sama menurutku adalah baik aku maupun Ivan sama-sama memiliki body yang besar….Hahahaha……………………
Tidak ada komentar:
Posting Komentar