Selasa, 25 Maret 2008

Dosenku Ganteng.... Mirip Ari Wibowo

Ehmmm….melanjutkan cerita mengenai para dosen yang pernah mengajarkan saya. Ada satu kisah menarik tentang dosen saya ini, maka saya menuliskannya secara terpisah…

Pak Kurnya Roesad, itulah namanya.

Beliau pernah dua kali mengajar saya saat kuliah dulu yaitu :
Teori Ekonomi Makro I
Teori Ekonomi Makro II

Pak Kurnya sangat bersemangat dalam memberikan pelajaran, cuma karena beliau mengajar menggunakan bahasa campuran Indonesia-Inggris, jadinya saya sering menebak-nebak sendiri inti persoalan ataupun maksud yang dibicarakannya. Lumayanlah buat melatih kemampuan belajar bahasa Inggris juga.

Beliau juga sangat baik pada para mahasiswanya karena beliau selalu memberikan kisi-kisi soal dan jawaban untuk ujian MidTest ataupun Ujian Akhir (Final Test). Soal dan jawaban kisi-kisi itu diberikan dalam bahasa Inggris. Memang saat ujian berlangsung soal yang keluar persis sama dengan kisi-kisi yang telah diberikan namun hanya nomernya yang diacak.

Dalam memberikan penilaian Pak Kurnya juga melihatnya berdasarkan tingkat kehadiran para mahasiswanya di kelas. Oleh karena Pak Kurnya ini adalah orang kantoran, beliau saat jam kerja sibuk bekerja di suatu lembaga (CSIS), makanya waktu mengajar Pak Kurnya pun di sesuaikan. Beliau hanya mengajar di luar jam kantornya, jadi selama dua kali diajarkan oleh beliau saya selalu kuliah pukul 18.00 WIB. Tidak heran jika saat mengajar, yang hadir hanya segelintir orang. Banyak mahasiswa, umumnya mahasiswa angkatan atas, yang hanya menitip absen pada mahasiswa lain yang hadir.

Yahh….Pak Kurnya memang tidak pernah memanggil satu persatu para mahasiswanya, daftar hadir langsung ditandatangani begitu ia masuk dan langsung ia edarkan ke mahasiswa, namun beliau tentu tidak bodoh.. Tentulah Pak Kurnya juga menghafal dan dapat membedakan mahasiswa yang sering masuk kelasnya atau yang hanya menitip absen. Kelas hanya akan penuh sesak jika menjelang MidTest ataupun Final karena para mahasiswa mengharapkan kisi-kisi soalnya.

Pak Kurnya juga nggak pernah marah kalau saat mengajar banyak mahasiswa yang tidak memperhatikan dirinya. Mahasiswa yang mengobrol sendiri ataupun yang membaca komik, asalkan tidak mengganggu mahasiswa lain yang ingin belajar. Banyak juga yang sering keluar dari kelas dengan alasan pergi ke kamar kecil namun mereka baru akan kembali setelah lebih dari 30 menit mengobrol di luar.

Thanks God…
Pak Kurnya memang adil dalam memberikan penilaian…
Bagi para mahasiswa yang menjawab hanya menghafalkan dari kunci jawaban yang telah diberikan dan daftar hadirnya memenuhi syarat minimal 75% tingkat kehadiran di kelas (maksimal 3 kali boleh tidak masuk kelas), biasanya mendapatkan nilai standar B.

Beberapa teman dan sahabat saya yang tingkat kehadirannya sama dengan saya sering merasa heran kepada saya karena saya selalu mendapat nilai A. Padahal mereka sama seperti saya, duduk di deretan depan saat di kelas, menyimak apa yang diterangkan oleh Pak Kurnya dan kami selalu kompak saat tidak masuk kelas. Tapi mengapa nilai saya yang lebih baik ???

Jangan berpikir yang macam-macam dulu....

Rahasianya adalah :
Dalam mengajar, Pak Kurnya juga memberikan catatan yang dapat di fotocopy, umumnya berbahasa Inggris. Namun saat mengajar itulah akan lebih dijelaskan pokok-pokok materi pengajarannya dengan menggunakan bahasa Indonesia campur Inggris. Selain itu biasanya juga ada beberapa tambahan yang tidak tercantum di catatan fotocopy yang diberikan.

Karena itulah walaupun kisi-kisi soal dan jawaban telah diberikan, namun saya selalu mengembangkan jawaban dari kisi-kisi tersebut sesuai dengan apa yang telah diterangkan oleh beliau. Saya juga menjawab soal dengan menggunakan bahasa Indonesia. Jadi beliau rupanya dapat membedakan mana yang memperhatikan saat beliau mengajar atau hanya mencontek dari kunci jawaban. Itulah mengapa saya selalu mendapat nilai A untuk mata kuliah yang diajarkannya.


Ehmm yang menarik dari Pak Kurnya tentunya adalah sosoknya yang “indo”. Beliau mungkin satu-satunya pengajar paling ganteng yang pernah mengajarkan saya. Tubuhnya yang tinggi, kulitnya yang putih dan wajah “indo”nya selalu membuat kami, para mahasiswi, terpesona.

Ya..…Pak Kurnya ini berdarah campuran Indonesia-Barat. (kayaknya sih Padang-AS, tapi nggak tahu juga, lupa sihhh). Namanya saja yang nggak kebarat-baratan, namun soal penampilan nggak beda jauh dengan Ari Wibowo.

Satu lagi yang suka bikin ketawa…
Saat menerangkan materi, beliau berusaha menggunakan bahasa Indonesia namun karena tidak terbiasa terkadang ada jeda waktu untuk mengingat kosakata bahasa Indonesia. Tak jarang ia menyerah dan menggunakan kosakata Inggris, kami para mahasiswanya yang akan menebak dan mentranslatenya baru kemudian beliau mengangguk atau menggeleng kalau yang kami katakan bukan yang dimaksud olehnya. Logat bicaranya lucu, nggak terlalu aneh sih, namun beda banget sama Cinta Laura Kiehl

Di balik sosok yang indo itu, Pak Kurnya adalah orang yang baik.
(Beliau juga sangat toleran pada kami yang akan sholat maghrib atau berbuka puasa dulu sebelum masuk kelas, karena itu biasanya kami masuk pukul 18.15 WIB setelah maghrib. Selain itu kami juga tahu kalau beliau juga berpuasa, karena kami biasanya sama-sama menunggu beduk maghrib tiba)

Nggak heran deh, kalau yang lebih sering masuk pada saat beliau mengajar adalah para mahasiswi yang ingin melihat ketampanan beliau. Pokoknya semangat deh menunggu hingga pukul 18.00 WIB demi melihat Pak Kurnya.

Sayangnya beliau sudah menikah jadi nggak ada harapan buat para mahasiswi untuk menggodanya…Hehehehehee…

Tidak ada komentar: