Selasa, 25 Maret 2008

Sheila on 7…Where are you ??

Sheila on 7, mendengar namanya mungkin sebagian besar orang di Indonesia merasa sudah tidak asing lagi. Salah satu band ternama asal Yogyakarta ini, sudah lama tidak terdengar kabarnya. Keberadaan Sheila on 7 semakin hari semakin tenggelam di tengah derasnya arus band-band baru yang semakin banyak muncul di peta musik Indonesia. Apalagi sang gitaris dan drummernya belakangan sering muncul dengan band barunya Jagostu, sementara Adam dan Duta jarang terlihat. Mulai Maret ini saja Duta rutin muncul di TV dengan sosok berbeda. Dengan kumis tipisnya, Duta berubah menjadi “Om Duta“ dan menjadi komentator pada acara Menuju Pentas Idola Cilik di RCTI.

Apakah ini pertanda Sheila on 7 akan bubar seperti diramalkan banyak orang?

Saya jawab, “ TIDAK…...alias NOOOooooooooooo…….JANGAN……………….”

Sebagai salah seorang anggota Sheila Gank, saya tidak setuju dengan pendapat orang-orang bahwa Sheila on 7 ” telah mati”. Walaupun para personelnya sibuk dengan urusannya masing-masing, namun mereka tetap setia pada Sheila on 7. Mereka tetap memikirkan musik apa kira-kira yang disukai pendengar musik Indonesia namun tetap berciri Sheila on 7.
Jadi, tunggu saja, tahun 2008 ini Sheila akan menggebrak panggung musik Indonesia kembali. Saya jadi nggak sabar nunggu nih…..


Ehm bicara tentang Sheila on 7 (SO7), bagi saya tentu akan mengingatkan saya pada masa-masa SMA, dimana mereka juga sedang berjaya saat itu. Saya ingat, pertama kali SO7 muncul di layar kaca Indonesia dengan lagu ‘KITA’, yang merupakan soundtrack dari sinetron Lupus yang tayang di Indosiar. Video klip yang keluar tahun 1997 itu menampilkan beberapa pemain Lupus serta personil SO7 ketika itu yaitu : Adam (bass), Anton (drum), Duta (vocal), Erros (gitar) dan Sakti (gitar).

Saya tidak suka dengan penampilan SO7 di video klip ‘KITA’, sama seperti ketika saya melihat video klipnya Kangen Band… Hi hi hi…..
Menurut saya make up mereka terlalu ‘medok’, kelihatan sekali dibedakinnya (mukanya keputihan sementara lehernya tidak ditaburi bedak, jadinya belang)
Sorry lho mas-mas, tapi bener kok, kelihatan kampungan banget.

Pada awalnya saya memang tidak begitu memperhatikan keberadaan SO7, apalagi waktu itu infotainment belum seheboh sekarang. Ketika dibahas KOMPAS saja saya masih biasa saja, padahal bahasannya lengkap banget, mengenai awal pertemuan mereka plus alamat rumah masing-masing personilnya. Klipingan koran itu digunting karena teman adik saya ada yang suka banget sama SO7 jadi mau dikasih sama adik saya. Tapi gara-gara digunting, jadi keburu hilang duluan nggak tahu kemana.
Nyesel saya, tahu bakalan ngefans abis begitu, saya simpan deh.

Namun karena fenomena SO7 sebagai band pertama yang telah menghasilkan album di atas 1 juta kopi, membuat mereka sering muncul di majalah remaja. Sebagai pelanggan majalah GADIS, wajah SO7 sering masuk di majalah itu dan semenjak itu saya mulai mengenal sosok personil SO7 sepenuhnya dan perlahan mulai menyukai SO7. Apalagi logat “medok” dan sifat mereka yang down to earth sekaligus lucu-lucu itu lama kelamaaan membuat hati ini terpikat. Setelah mendengarkan semua lagu yang dibawakan oleh Duta cs, membuat saya semakin tergila-gila.

Saya suka lagu-lagu SO7 terutama ciptaan mas Erros Chandra karena musiknya yang easy listening, liriknya yang sederhana dan terkadang puitis, namun mengena di hati. Tema yang diambil juga beragam, tidak melulu tentang cinta antar pasangan. Walaupun bertema cinta tapi dikemas dengan sudut pandang berbeda..

Misalnya saja yang berjudul “ Saat Aku Lanjut Usia ”, berkisah tentang cinta seseorang dan ia mengharapkan pasangannya tetap setia walau apapun yang terjadi hingga maut memisahkan mereka. Lagu ini sedikit berirama country menurut pendengaran saya. Musik SO7 sangat beragam sehingga tidak membosankan, beda dengan Ungu. Itu menurut saya lho…

Namun yang membuat saya selalu menunggu penampilan SO7 di TV terutama saat-saat ini adalah karena saya kangen dengan masa lalu.
Yaaa, dengan mendengarkan sebuah lagu dari SO7 saya akan terkenang akan sesuatu. Memang memori itu yang tidak bisa dilupakan, sama halnya seperti ketika saya makan nasi kuning pasti akan teringat nasi kuning idaman kesukaan saya semasa kecil (hanya ada di Palu lhooo letaknya di sebelah gereja… enak tenan, maknyusss pokok e). Rasanya yang enak dan berbeda serta kenangannya itu yang membuat saya selalu membandingkannya dengan yang lain. Memori itulah yang akan selalu kita ingat.

“Bersenang-senanglah karena hari ini yang kan kita rindukan, di hari nanti, sebuah kisah klasik untuk masa depan”

Lirik lagu “Kisah Klasik Untuk Masa Depan”, mengingatkan saya pada teman-teman masa kecil saya dulu.
“Betapa senangnya kami pada masa kecil dulu dan bagaimana keadaan mereka sekarang?”, begitu pikiran saya melayang setiap mendengar lagu ini

Tahu nggak ?

Saking ngefans sama Sheila on 7, saya sampai ngebet banget bisa lolos SPMB dan masuk Universitas Gajah Mada. Supaya dekat mereka, siapa tahu bisa temenan, begitu pikir saya. Ehmm bukan karena SO7 saja deh, mungkin karena banyak teman masa kecil saya tinggal di sana jadi pengen ketemu dan berakrab-akrab lagi dengan mereka. SO7 sudah seperti kakak maupun teman bagi saya. Walaupun mereka tidak mengenal saya, tapi sifat mereka yang ramah dan terkesan sangat akrab membuat saya merasa mereka selayaknya teman-teman masa kecil saya dulu.

Sayangnya cita-cita saya masuk UGM tidak terwujud. Ketika pengisian formulir SPMB saya malah semakin bingung karena disana sini banyak yang berpendapat (orangtua khususnya), akibatnya saya tidak memilih UGM dan karena itulah sepertinya strategi saya salah. Semua universitas yang saya pilih berada di rayon yang sama, padahal syaratnya harus ada salah satu pilihan yang berada di luar rayon. Padahal saya yakin sekali soal-soal IPS saya kuasai dengan baik. Hik hik hik………..hik

Tetapi tidak apa-apa. Mungkin nasib saya yang belum beruntung dan Allah SWT telah menakdirkan hal lain pada saya.

Coba tebak….
Suatu sore hari, ketika saya dan seorang teman menunggu mata kuliah berikutnya yang berlangsung pukul 18.00 WIB, karena bosan menunggu kami pun berjalan-jalan di seputaran kampus dan tiba-tiba saja duduk di halte depan gerbang masuk Universitas. Kebetulan saat itu bulan puasa dan musholla ada dekat situ, jadilah saya sholat Ashar terlebih dahulu. Teman saya tetap menunggu di halte karena ia berbeda agama. Seusai sholat saya kembali ke halte depan dan kembali melanjutkan obrolan kami. Tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh kurus ceking yang memasuki gerbang dan bertanya pada orang yang lewat. Entah ia menanyakan apa, tetapi yang jelas sosok tubuh kurus ceking itu adalah Duta SO7. Setelah tahu lokasi yang dicari ia menoleh dan memanggil temannya. Rupanya mobil mereka parkir di depan gerbang kampus. Dan orang yang keluar dari mobil tersebut adalah Sakti SO7.

Oh My God….saya nggak bisa ngomong apa-apa, cuma bisa bengong melihat mereka. Ternyata mereka menuju ke arah musholla, mungkin mereka mau sholat atau ada acara buka puasa bersama sekaligus wawancara dengan radio kampus. Kami tidak tahu pasti, karena sampai tiba adzan Maghrib mereka tidak muncul kembali. Di musholla pun tidak ada, dan karena saya harus buru-buru kuliah saya pun pergi dari tempat itu.

Benar-benar pengalaman yang membuat hati deg-degan. Saat itu saya belum memiliki HP berkamera karena masih belum banyak beredar, jadi saya tidak bisa berfoto bareng. Lagian malu juga, soalnya orang lain bersikap biasa saja. Memang, orang Jakarta yang intelek nggak akan “heboh” bila bertemu idolanya.

Perpecahan di kubu SO7 tidak mengurangi kualitas maupun ciri khas musik Sheila on 7. Keluarnya Anton dan Sakti tidak terlalu berpengaruh karena sebagian besar “roh Sheila on 7” ada pada diri Erros Chandra sang penggubah lagu-lagu SO7. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada peran serta personil lainnya, tetapi Mas Erros inilah yang pintar meramu musik dan lirik demi menghasilkan karya-karya hebat.

O iya, apakabar ya mas Anton dan mas Sakti sekarang? Nggak nyangka mas Sakti bisa berubah jadi ‘santri banget’, padahal dulu yang paling dandy lho, penampilannya paling oke diantara yang lainnya (yang terkesan cuek bebek itu). Aku suka banget dulu liat penampilan mas Sakti.


Jujur, ada perasaan malu jika menyebutkan Sheila on 7 sebagai band idola. Nggak tahu kenapa, mungkin karena orang sering merendahkan mereka, dibandingkan jika menyebut nama Dewa, Gigi atau PADI. Apakah karena penggemar SO7 kebanyakan perempuan dan berasal dari daerah?
Padahal lagu-lagu SO7 nggak kalah bagus dengan lagu-lagunya mereka. Apalagi dengan band-band ngetop sekarang seperti Peterpan, Samson, Nidji, Ungu, Radja, dll.

Tapi SO7 akan tetap di hati saya, sampai kapan pun lagu-lagunya, khususnya dari album pertama, akan selalu terngiang di hati dan ingatan saya.

Tidak ada komentar: