Sesuai tradisi yang berlaku di keluarga kami bahwa hari raya lebaran adalah saatnya keluarga besar berkumpul, saling bersilaturahmi dan bermaaf-maafkan. Maka pada waktu lebaran bulan Oktober lalu, keluarga besar kami pun berkumpul. Setelah melalui proses rembuk yang cukup alot, akhirnya diputuskan bahwa kumpul lebaran kali ini akan diadakan di Puncak pada H+2.
Ya…kami akan menyewa tempat di daerah Mega Mendung.
Hampir seluruh keluarga besar datang berkumpul, hanya ada dua keluarga (keduanya adalah adiknya ayah) yang tidak bisa hadir karena berada nun jauh di luar pulau Jawa (Bengkulu dan Italia). Selebihnya, delapan anak Eyang Putri beserta keluarga tentunya (anak, cucu bahkan cicit) turut hadir menyemarakkan kumpul keluarga besar.
Namun ada pula tambahan anggota keluarga baru, saya punya keponakan cewek baru, bayi mungil yang berusia tiga bulan. Bayi cantik namun malang ini (akan saya ceritakan kisahnya nanti), kala itu menjadi primadona karena anggota keluarga lain yang belum sempat melihatnya tentu sangat penasaran melihatnya.
Melalui kumpul keluarga seperti ini mengalirlah cerita tentang perkembangan masing-masing anggota keluarga. Selain itu, masalah mengenai warisan keluarga dan keadaan Eyang Putri juga dibahas pada waktu itu (tentunya hanya ayah dan adik-adik kandungnya). Masalah warisan sendiri penting untuk dibahas mengingat usia dan kondisi Eyang Putri yang semakin bertambah tua dan menurun kesehatannya.
Namun cerita menggembirakan tentunya juga ada. Seperti biasa, ada yang baru diterima kerja, baru lulus kuliah, baru mempunyai rumah baru, baru mendapat promosi kerja, baru mau punya momongan lagi dan lain-lain. Keluargaku sendiri nggak ada kabar baru kecuali adikku Atta yang baru lulus kuliah.
Yang paling seru tentunya kabar bahwa salah seorang sepupuku yang tinggal Bali telah merampungkan syuting untuk video klip musik dari album kompilasi yang memang telah di launching beberapa bulan sebelumnya. Untuk diketahui, sepupu cowokku ini adalah anggota band yang beberapa bulan lalu memenangkan juara favorit A Mild Live Wanted 2008. Sepupu cowokku ini memegang keyboard, namanya di band pun berubah jadi Baim. Hahaha….padahal nama aslinya jauh dari itu lho. Sebutan “Baim” pada awalnya memang telah disandangnya semenjak lebaran tahun lalu, karena saat itu rambutnya yang camuri (cakar muka sendiri) dan penampilannya yang mirip dengan Baim Wong membuat kami menjulukinya “Baim Wong Bali”. Hehehehe…………
Jenis musik yang ditawarkan kayaknya mudah diterima pasar musik Indonesia, apalagi didukung penampilan mereka di atas panggung yang selalu atraktif dan komunikatif terhadap penonton. Baru denger satu lagi sih, tapi berdasarkan komentar orang-orang di Friendster-nya, band ini adalah band yang sudah ngetop di Pulau Bali.
Akhirnya….akan ada juga cucu Eyang yang menjadi orang terkenal alias artis. Doain ya semoga bandnya sukses dan terkenal seperti band-band yang saat ini menjamur di televisi.
Yah…selayaknya acara kumpul keluarga lainnya di hari lebaran, keluarga kami pun mempunyai tradisi membagi-bagikan uang bagi para cucu dan cicit yang belum menikah. Sebagian besar keluarga Indonesia melakukan hal ini juga saat lebaran, bukan ??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar