Dalam usaha menamatkan novel Out, saya pun disela-sela liburan bela-belain bawa buku tebel itu. Padahal mobil sudah penuh barang-barang nggak penting lainnya.
Contohnya saja : aqua gelas satu dus, piring, pemanas air listrik (ternyata di penginapan juga disediakan dispenser Aqua gallon), cobek (yup, ibu saya niat banget bikin sambal) dan tentunya bahan-bahan makanan lain terutama bahan sambal dan lalapan, belum lagi ditambah tas kita masing-masing.
Waduh… menjejakkan kaki di lantai mobil sepanjang perjalanan saja menjadi suatu hal yang mewah.
Ini nih gara-gara pengen makan bareng-bareng keluarga besar dengan menu andalan masing-masing. Ibu saya saja mau repot-repot masak balado terong sama lele goreng plus rempeyek. Tante saya juga bawa makanan lainnya, rendang, botok, dll, termasuk bawa magic jar sendiri buat masak nasi..
Repot banget ya ??
Kalo mau gampang sih tinggal beli, sama saja, di Puncak juga banyak warung makan atau restoran. Cuma taste or rasanya yang patut dipertanyakan… dan lebih irit katanya (masa sih??? capeknya nggak dihitung)
“Kan enak, makan sambil ngumpul dan ngobrol ngalor ngidul… ”, katanya.
Back to the novel,
Memang dasar nggak mood, dibawa juga percuma saja, dibacanya cuma beberapa halaman saja. Sampai kapan tamatnya ???
Blog ini berisikan kisah hidup keluarga aku maupun semua catatan yang ingin aku ungkapkan mengenai kehidupan di dunia...
Rabu, 09 April 2008
Our Family : Big Butt and Same Face
Pada dasarnya, setiap keluarga pasti memiliki beberapa kesamaan baik dari segi fisik maupun sifat. Namanya juga saudara, walaupun sudah tercampur alias menikah atau kawin dengan orang lain yang berbeda suku, tapi tetap saja ada persamaan diantara anak-anak atau keturunannya. Hal itu juga terjadi pada keluarga besar saya dari pihak ayah.
Pada liburan kemarin sempat dibahas kembali oleh sepupu-sepupu saya, kesamaan bahwa keturunan perempuan dari Eyang Putri memiliki betis dan bokong yang besar. Memang benar juga sih, bokong alias pantat atau “bemper” kami, cucu-cucu perempuan Eyang Putri, memang lebih dari rata-rata. Mulai dari Eyang Putri, anak-anak perempuannya sampai cucu-cucunya, baik yang sudah menikah ataupun belum, memiliki bokong yang besar. Heran juga, kok bisa begitu ya ?? Padahal seperti adik saya Atta maupun sepupu saya Desi, badannya kurus tetapi besar di belakang alias gede bujur….ups sorry… Ibu saya yang orang Sunda sering bilang gitu…. nggak sopan ya??
Kakaknya Desi saja, dari kecil kurus banget tetapi setelah menikah dan punya dua orang anak jadi gendut juga. Alhasil bokongnya ikut membesar.
Tetapi ternyata nggak semuanya juga sih, ada juga sepupu saya yang rajin fitness jadi bokongnya tidak besar alias tepos, mungkin juga gen ibunya yang notobene anaknya Eyang Putri kalah sama gen ayahnya.
Atau karena faktor kebiasaan olahraga juga ya ??…Saya sih paling males disuruh olahraga, makanya badan melar begini. Olahraga, saya kurang suka… palingan aerobic tapi kalau nge-dance paling seneng, apalagi kalau lagunya asyik.. Bergaya jadi Britney atau Beyonce, dancenya juga nggak pake ilmu koreografer, jadi ngasal aja. Alhasil kadang-kadang badan malah jadi pegel-pegel.
Yuk lanjut…
Selain bokong besar, ada juga cucu-cucu maupun cicit yang memiliki kesamaan bentuk wajah.
Contohnya sepupu saya Dya, mirip dengan sepupu saya lainnya yaitu Mbak Wulandari, kakaknya Desi. Padahal tante saya itu (mamanya Dya) saat hamil nun jauh disana…di negerinya Paolo Maldini. Tante saya menikah dengan orang Jawa yang kerja disana, dan mungkin saat hamil teringat Mbak Wulandari yang dari kecil memang tinggal bersama Eyang Putri (secara, keluarganya memang tinggal sama Eyang). Nggak tahu juga sihhh…memang tante Rini (mamanya Mbak Wulandari) dan Tante Ida (mamanya Dya) juga mirip… ya karena saudara sekandung (anak ke 5 dan ke 8), tapi kan kalau antar cucu hubungannya sudah jauh dan sudah tercampur gen-gen ayahnya masing-masing. Tapi kok ya mirip sekali, kayak kakak adik kandung saja.
Contoh lain :
Keponakan saya (anaknya sepupu saya, Novi) yang masih 3 tahun, mukanya tuh agak-agak mirip saya waktu kecil (saya liat foto-foto kecil saya memang mirip), rambutnya yang ikal keriwil2 juga sama, cuma Angelica lebih montok n gendut.
Ada lagi, adik saya Pei mirip dengan keponakan saya juga yang berusia 2.5 tahun, rambutnya juga keriting bedanya adik saya kecilnya gendut sementara ponakan saya ini kurus, susah makannya sih…
Masih ada beberapa lagi yang memiliki kesamaan wajah. Kalau sifat, memang ada yang sama ada yang berbeda juga. Misalnya Om ini sifatnya sama dengan Ayah, tante ini sama sifatnya kayak Om ini.. Begitulah….
Memang semuanya adalah rahasia Allah SWT yang telah menciptakan seluruh umat manusia di dunia ini.
* Di foto ini, saya (berbaju biru) dan mama saya (baju ungu) sedang ‘nungging’ mengawasi keponakan saya yang sedang berenang…
Really big butt ,right??? Padahal mama saya keluarganya turunan kecil-kecil badannya, cuma sejak melahirkan saja jadi melar...
Pada liburan kemarin sempat dibahas kembali oleh sepupu-sepupu saya, kesamaan bahwa keturunan perempuan dari Eyang Putri memiliki betis dan bokong yang besar. Memang benar juga sih, bokong alias pantat atau “bemper” kami, cucu-cucu perempuan Eyang Putri, memang lebih dari rata-rata. Mulai dari Eyang Putri, anak-anak perempuannya sampai cucu-cucunya, baik yang sudah menikah ataupun belum, memiliki bokong yang besar. Heran juga, kok bisa begitu ya ?? Padahal seperti adik saya Atta maupun sepupu saya Desi, badannya kurus tetapi besar di belakang alias gede bujur….ups sorry… Ibu saya yang orang Sunda sering bilang gitu…. nggak sopan ya??
Kakaknya Desi saja, dari kecil kurus banget tetapi setelah menikah dan punya dua orang anak jadi gendut juga. Alhasil bokongnya ikut membesar.
Tetapi ternyata nggak semuanya juga sih, ada juga sepupu saya yang rajin fitness jadi bokongnya tidak besar alias tepos, mungkin juga gen ibunya yang notobene anaknya Eyang Putri kalah sama gen ayahnya.
Atau karena faktor kebiasaan olahraga juga ya ??…Saya sih paling males disuruh olahraga, makanya badan melar begini. Olahraga, saya kurang suka… palingan aerobic tapi kalau nge-dance paling seneng, apalagi kalau lagunya asyik.. Bergaya jadi Britney atau Beyonce, dancenya juga nggak pake ilmu koreografer, jadi ngasal aja. Alhasil kadang-kadang badan malah jadi pegel-pegel.
Yuk lanjut…
Selain bokong besar, ada juga cucu-cucu maupun cicit yang memiliki kesamaan bentuk wajah.
Contohnya sepupu saya Dya, mirip dengan sepupu saya lainnya yaitu Mbak Wulandari, kakaknya Desi. Padahal tante saya itu (mamanya Dya) saat hamil nun jauh disana…di negerinya Paolo Maldini. Tante saya menikah dengan orang Jawa yang kerja disana, dan mungkin saat hamil teringat Mbak Wulandari yang dari kecil memang tinggal bersama Eyang Putri (secara, keluarganya memang tinggal sama Eyang). Nggak tahu juga sihhh…memang tante Rini (mamanya Mbak Wulandari) dan Tante Ida (mamanya Dya) juga mirip… ya karena saudara sekandung (anak ke 5 dan ke 8), tapi kan kalau antar cucu hubungannya sudah jauh dan sudah tercampur gen-gen ayahnya masing-masing. Tapi kok ya mirip sekali, kayak kakak adik kandung saja.
Contoh lain :
Keponakan saya (anaknya sepupu saya, Novi) yang masih 3 tahun, mukanya tuh agak-agak mirip saya waktu kecil (saya liat foto-foto kecil saya memang mirip), rambutnya yang ikal keriwil2 juga sama, cuma Angelica lebih montok n gendut.
Ada lagi, adik saya Pei mirip dengan keponakan saya juga yang berusia 2.5 tahun, rambutnya juga keriting bedanya adik saya kecilnya gendut sementara ponakan saya ini kurus, susah makannya sih…
Masih ada beberapa lagi yang memiliki kesamaan wajah. Kalau sifat, memang ada yang sama ada yang berbeda juga. Misalnya Om ini sifatnya sama dengan Ayah, tante ini sama sifatnya kayak Om ini.. Begitulah….
Memang semuanya adalah rahasia Allah SWT yang telah menciptakan seluruh umat manusia di dunia ini.
* Di foto ini, saya (berbaju biru) dan mama saya (baju ungu) sedang ‘nungging’ mengawasi keponakan saya yang sedang berenang…
Really big butt ,right??? Padahal mama saya keluarganya turunan kecil-kecil badannya, cuma sejak melahirkan saja jadi melar...
Selasa, 08 April 2008
PERMAINAN TRADISIONAL MASA KECIL :
Menyambung postingan blog terdahulu, saya jadi inget permainan masa kecil dulu. Saya menghabiskan masa kecil di Palu, Sulawesi Tengah. Namun karena tinggal di komplek Departemen, teman-teman saya banyak yang berasal dari Pulau Jawa juga. Sebagian saja yang benar-benar asli Sulawesi. Jadi nggak banyak hal yang berbeda dari kehidupan saya sehari-hari di rumah.
Permainan tradisional biasanya hampir sama di tiap daerah, hanya nama saja yang berbeda. Sebut saja permainan benteng, ada yang bilang “bentengan”; kelar (dulu di Palu disebut begitu) disini disebut main Kelahar atau Gobak Sodor ya ???? Nggak tahu dehhh. Gobak sodor kayak gimana ya?? saya bener-bener nggak tahu…Tapi kayaknya bener sih, gobak sodor=kelar…..anak sekarang sudah jarang main ini sih, jadi nggak pernah liat mainan kayak gitu lagi…
Sekarang lebih banyak main atau berolahraga ya??? Dari dulu memang main bola bagi anak lelaki wajib hukumnya. Sepakbola, nggak ada lapangan asal ada ruang kosong sedikit yang ada di sekitar rumah, jadi deh tempat main. Kalau anak perempuan jaman dulu paling sering main karet, congklak, masak-masakan atau main pasar-pasaran. Ada juga yang main baju-baju atau nggak main boneka, ngobrol sama bonekanya, pura-pura boneka adalah anaknya….tapi jujur saya bukan tipe yang kayak gitu. Lebih enak main karet, masak-masakan atau pasar-pasaran deh…
Eh jadi inget, saya dan teman-teman pernah nyolong pisang lho dari komplek sebelah. Ada tanah lapang di komplek sebelah, di belakang kantor pajak, yang ditanami pohon pisang dan sayur singkong, karena nggak ada yang jaga dan kirain nggak ada pemiliknya…iseng dehhh…liat pisang setandan sudah mulai menguning siapa yang nggak ngiler…….Akhirnya digoreng deh…bukan pake kompor emak ya…. tapi pakai kayu donk…kayak lagi kemping pramuka… Asyik kan …
Apalagi kalau kita lagi jalan-jalan…bukan ke mall…jalan seputaran komplek saja paling ke komplek sebelah (main sama anak disana), menjelajahi daerah-daerah sekitar yang jarang dilewati sampai ke hutan (nggak hutan banget kali…cuma memang masih berupa jalan setapak, banyak pohon kelapa dan rimbunan semak-semak). Takut tersesat juga sih, kalau masih baru dan belum hafal daerah situ…But it’s OK…Tenang aja…kami nggak terlalu takut karena ada beberapa rumah juga disana. Jadi kemungkinan ketemu orang masih ada…bukan binatang buas. Tapi ya itu, kita juga dilarang sering-sering kesana, takut ada oranng jahat. Tapi disitu ada tukang kelapa, biasanya kalau ibu butuh kelapa agak banyak pasti nyuruh pembantu beli kelapa disana, dijamin lebih murah dari pasar …Ada juga usaha tanah liat atau usaha batu bata.
Pokoknya masa kecil di daerah memang mengasyikkan…bisa tiap minggu berenang ke laut. Jaraknya nggak jauh dan tidak macet pastinya.
Beda banget kalau liat keponakan atau sepupu yang masih kecil saat ini yang ada di kota besar. Kasihan juga, nggak punya pengalaman seru seperti kita. Mereka tahunya main PS, main boneka Barbie, Naruto dan permainan sejenis lainnya. Permainan itu terkesan individualistic.
Tapi banyak juga permainan menarik yang mulai dimunculkan saat ini untuk merangsang kreatifitas mereka dan melatih keberanian sekaligus melatih kerjasama antar teman. Tapi ya itu…butuh uang yang besar kalau mau ikut kegiatan outbond seperti itu. Atau wahana permainan baru yang ada di Pacifik Place Mall. Disitu anak-anak bisa berperan sesuai apa yang ia mau seperti pengen jadi dokter, pilot, pemadam kebakaran, kasir toko, pemain teater dan lain sebagainya. Mengasyikkan bagi anak-anak tentunya, tapi memboroskan bagi para orangtua karena mahal banget tiket masuknya. Bagi anak yang kurang mampu, main bola rasanya nggak pernah basi dan bagi anak perempuan, membantu ibu masak di dapur juga bisa dijadikan mainan tersendiri.
BETA MISKIN
Permainan Beta Miskin ini mungkin ada juga di daerah lain, dengan nama berbeda tentunya. Saya sendiri lupa namanya apa, tetapi lebih sering dikatakan “Permainan Beta Miskin”. Permainan ini lebih sering dimainkan oleh anak perempuan.
Cara mainnya :
Bagi dua kelompok : miskin dan kaya (bukan dilihat hartanya lho, tapi banyaknya anak/anggota yang dimiliki),lalu berjejer sesuai kelompok masing-masing dan saling berhadapan. Selanjutnya sambil bernyanyi, kelompok kaya akan mengambil satu per satu anggota kelompok miskin sampai tersisa satu orang. Satu orang dari kelompok miskin ini nantinya harus merebut anggotanya kembali dengan cara kejar-kejaran. Sebaliknya pemimpin kelompok kaya harus melindungi anak/anggota nya. Anak/anggotanya akan berbaris di belakang pemimpin kelompok kaya. Sambil merentangkan tangan, pemimpin kelompok kaya akan melindungi anak/anggotanya dari kejaran kelompok miskin. Kalau ada yang ketangkap berarti ia akan jadi sandera dan masuk ke anggota kelompok miskin.
Rame … Seru … Kejar-kejaran ... saling teriak-teriakan kalau mau ketangkep…Heboh Dehhh …
Ini lagunya, masih terngiang di telinga saya walaupun ada yang agak lupa :
Kelompok Miskin :
Beta miskin, miskin, miskin…… mari ye te mari ya
Kelompok Kaya :
Beta kaya, kaya, kaya ….. mari ye te mari ya
Saya mau minta anak, dari situ lebih banyak…..mari ye te mari ya
Kelompok Miskin :
Anak siapa yang kau minta …… mari ye te mari ya
Kelompok Kaya :
Anak . . . (sebut namanya) yang kami minta….. mari ye te mari ya
Kelompok Miskin :
Kasih apa sama dia….. mari ye te mari ya
Kelompok Kaya :
Kasih . . .(sebut apa maunya, cth : makan) sama dia… mari ye te mari ya
Kelompok Miskin :
Ambil saja yang kau minta…...mari ye te mari ya
Begitu seterusnya sampai anggota kelompok miskin habis dan kejar-kejaran dimulai ...
Permainan tradisional biasanya hampir sama di tiap daerah, hanya nama saja yang berbeda. Sebut saja permainan benteng, ada yang bilang “bentengan”; kelar (dulu di Palu disebut begitu) disini disebut main Kelahar atau Gobak Sodor ya ???? Nggak tahu dehhh. Gobak sodor kayak gimana ya?? saya bener-bener nggak tahu…Tapi kayaknya bener sih, gobak sodor=kelar…..anak sekarang sudah jarang main ini sih, jadi nggak pernah liat mainan kayak gitu lagi…
Sekarang lebih banyak main atau berolahraga ya??? Dari dulu memang main bola bagi anak lelaki wajib hukumnya. Sepakbola, nggak ada lapangan asal ada ruang kosong sedikit yang ada di sekitar rumah, jadi deh tempat main. Kalau anak perempuan jaman dulu paling sering main karet, congklak, masak-masakan atau main pasar-pasaran. Ada juga yang main baju-baju atau nggak main boneka, ngobrol sama bonekanya, pura-pura boneka adalah anaknya….tapi jujur saya bukan tipe yang kayak gitu. Lebih enak main karet, masak-masakan atau pasar-pasaran deh…
Eh jadi inget, saya dan teman-teman pernah nyolong pisang lho dari komplek sebelah. Ada tanah lapang di komplek sebelah, di belakang kantor pajak, yang ditanami pohon pisang dan sayur singkong, karena nggak ada yang jaga dan kirain nggak ada pemiliknya…iseng dehhh…liat pisang setandan sudah mulai menguning siapa yang nggak ngiler…….Akhirnya digoreng deh…bukan pake kompor emak ya…. tapi pakai kayu donk…kayak lagi kemping pramuka… Asyik kan …
Apalagi kalau kita lagi jalan-jalan…bukan ke mall…jalan seputaran komplek saja paling ke komplek sebelah (main sama anak disana), menjelajahi daerah-daerah sekitar yang jarang dilewati sampai ke hutan (nggak hutan banget kali…cuma memang masih berupa jalan setapak, banyak pohon kelapa dan rimbunan semak-semak). Takut tersesat juga sih, kalau masih baru dan belum hafal daerah situ…But it’s OK…Tenang aja…kami nggak terlalu takut karena ada beberapa rumah juga disana. Jadi kemungkinan ketemu orang masih ada…bukan binatang buas. Tapi ya itu, kita juga dilarang sering-sering kesana, takut ada oranng jahat. Tapi disitu ada tukang kelapa, biasanya kalau ibu butuh kelapa agak banyak pasti nyuruh pembantu beli kelapa disana, dijamin lebih murah dari pasar …Ada juga usaha tanah liat atau usaha batu bata.
Pokoknya masa kecil di daerah memang mengasyikkan…bisa tiap minggu berenang ke laut. Jaraknya nggak jauh dan tidak macet pastinya.
Beda banget kalau liat keponakan atau sepupu yang masih kecil saat ini yang ada di kota besar. Kasihan juga, nggak punya pengalaman seru seperti kita. Mereka tahunya main PS, main boneka Barbie, Naruto dan permainan sejenis lainnya. Permainan itu terkesan individualistic.
Tapi banyak juga permainan menarik yang mulai dimunculkan saat ini untuk merangsang kreatifitas mereka dan melatih keberanian sekaligus melatih kerjasama antar teman. Tapi ya itu…butuh uang yang besar kalau mau ikut kegiatan outbond seperti itu. Atau wahana permainan baru yang ada di Pacifik Place Mall. Disitu anak-anak bisa berperan sesuai apa yang ia mau seperti pengen jadi dokter, pilot, pemadam kebakaran, kasir toko, pemain teater dan lain sebagainya. Mengasyikkan bagi anak-anak tentunya, tapi memboroskan bagi para orangtua karena mahal banget tiket masuknya. Bagi anak yang kurang mampu, main bola rasanya nggak pernah basi dan bagi anak perempuan, membantu ibu masak di dapur juga bisa dijadikan mainan tersendiri.
BETA MISKIN
Permainan Beta Miskin ini mungkin ada juga di daerah lain, dengan nama berbeda tentunya. Saya sendiri lupa namanya apa, tetapi lebih sering dikatakan “Permainan Beta Miskin”. Permainan ini lebih sering dimainkan oleh anak perempuan.
Cara mainnya :
Bagi dua kelompok : miskin dan kaya (bukan dilihat hartanya lho, tapi banyaknya anak/anggota yang dimiliki),lalu berjejer sesuai kelompok masing-masing dan saling berhadapan. Selanjutnya sambil bernyanyi, kelompok kaya akan mengambil satu per satu anggota kelompok miskin sampai tersisa satu orang. Satu orang dari kelompok miskin ini nantinya harus merebut anggotanya kembali dengan cara kejar-kejaran. Sebaliknya pemimpin kelompok kaya harus melindungi anak/anggota nya. Anak/anggotanya akan berbaris di belakang pemimpin kelompok kaya. Sambil merentangkan tangan, pemimpin kelompok kaya akan melindungi anak/anggotanya dari kejaran kelompok miskin. Kalau ada yang ketangkap berarti ia akan jadi sandera dan masuk ke anggota kelompok miskin.
Rame … Seru … Kejar-kejaran ... saling teriak-teriakan kalau mau ketangkep…Heboh Dehhh …
Ini lagunya, masih terngiang di telinga saya walaupun ada yang agak lupa :
Kelompok Miskin :
Beta miskin, miskin, miskin…… mari ye te mari ya
Kelompok Kaya :
Beta kaya, kaya, kaya ….. mari ye te mari ya
Saya mau minta anak, dari situ lebih banyak…..mari ye te mari ya
Kelompok Miskin :
Anak siapa yang kau minta …… mari ye te mari ya
Kelompok Kaya :
Anak . . . (sebut namanya) yang kami minta….. mari ye te mari ya
Kelompok Miskin :
Kasih apa sama dia….. mari ye te mari ya
Kelompok Kaya :
Kasih . . .(sebut apa maunya, cth : makan) sama dia… mari ye te mari ya
Kelompok Miskin :
Ambil saja yang kau minta…...mari ye te mari ya
Begitu seterusnya sampai anggota kelompok miskin habis dan kejar-kejaran dimulai ...
Numpang Tidur Doank
Liburan kali ini hanya terdiri dari Eyang Putri , 4 anaknya, 2 menantu beserta cucu-cucu (11), cicit-cicit (5) dan pengasuh anak-anak (4). Jumlah semuanya 27 orang. Banyak juga ya, padahal belum semuanya ikut lho.
Kami menyewa 3 buah villa yang saling berdekatan dan masing-masing memiliki 3 buah kamar. Setelah bagi-bagi kamar tidur dan ngobrol ngalor ngidul, selepas sholat maghrib kami berkumpul di villa tempat Eyang Putri berada untuk makan malam. (kami membawa makanan dari rumah)
Sambil makan, kami melanjutkan obrolan sambil berkaraoke ria (pamanku niat banget bawa satu set karaoke dari rumahnya).
Agak malamnya barulah kami, cucu-cucu, yang minta izin pergi jalan-jalan untuk menikmati jagung bakar di Puncak. Sepanjang jalan menuju Puncak Pass banyak ditemui warung-warung yang selain menjajakan jagung bakar dan minuman hangat, juga memajang perempuan-perempuan muda nan cantik. Tau kan maksudnya ????
Akhirnya kami berhenti di salah satu warung yang berada di kawasan Puncak Pass yang sekiranya tidak ada wanita nakal di situ. Lucunya, kami perempuan berlima sementara lelakinya cuma satu (suaminya sepupu saya).
Payah …. yang lain nggak mau ikut. Padahal tadinya kita-kita malamnya mau ke coffe house-nya penginapan, nonton orang-orang nyanyi and main billiard. Tapi ternyata eh ternyata semua pada capek…Memilih tidur nemenin anak-anaknya (padahal kan ada baby sitter gitu lho), nggak mau ikut nemenin makan jagung bakar.
Jadilah kami bercanda-canda, mengira-ngira apa yang ada di benak orang lain melihat kami, lima perempuan bersama seorang lelaki dalam sebuah mobil. Mungkin begini pendapat orang-orang :
“Wah, ini lagi ngedrop perempuan-perempuan baru”
atau
“ Hebat banget tuh orang bisa dapet perempuan sebanyak itu, raja minyak dari mana tuh ??”
Hahahaha…… Setelah menikmati segelas bandrek susu plus jagung bakar tentunya serta diiringi musik dari lagu-lagu band masa kini, yang dilantunkan pengamen yang khusus memainkan request lagu dari kami , kami pun pulang kembali ke penginapan. Langsung tidur….Brrrrr……….Dingin banget udaranya.
Bye the way bus way…
Seperti yang telah diduga sebelumnya, liburan kali ini kami hanya numpang tidur saja sekalian berenang sihh. Yah, sekalian saling mengakrabkan diri antar saudara juga. Saya mengharapkan bisa jalan-jalan ke kebun teh pada pagi hari, menikmati udara yang sejuk atau ikut kegiatan outbond dll. Namun ternyata kami hanya jalan-jalan di seputaran penginapan saja. Siang harinya, saat pulang kami mampir di Museum Dinosaurus dan taman bermain atau arena outbond mini yang ada di sebelahnya. Tidak begitu menarik bagi orang dewasa, namun menarik bagi anak kecil alias cicit-cicitnya Eyang. Senang juga melihat mereka tertawa senang atau bahkan menangis ketakutan ketika akan bermain flying fox.
Ughh…anak sekarang enak banget, banyak arena bermain yang menarik. Zaman saya kecil dulu, paling main manjat pohon mangga… trus ngerujak deh, atau bermain permainan tradisional seperti : benteng, kelar, karet, congklak, atau main kemah-kemahan di seputaran komplek. Tapi pengalaman saya dulu lebih asyik ah..Lebih memorable gitu (bener nggak nih tulisannya??)
Selanjutnya kami makan bersama di sebuah restoran, yang membayar adalah sepupu saya yang berulang tahun sekaligus syukuran karena diterima kerja sesuai impiannya dan telah menjadi pegawai tetap di Astra Internasional.. Enaknya…….
Kami pun berpisah menuju rumah masing-masing. Saya sekeluarga mampir dulu di Bogor beli roti unyil sekalian mencari gandaria, buah yang sering digunakan sebagai pelengkap untuk membuat sambal. Lebih enak makan kalau pakai sambal gandaria… Ternyata roti unyil Venus, yang sudah pindah (sekarang nggak dekat asinan bogor lagi), tetap saja ramai pembeli. Kami bahkan susah untuk memesan roti, harus teriak-teriak berebutan dengan orang lain.
Ehmmm liburan kali ini termasuk liburan yang biasa-biasa saja bagi saya. Pengennya sih jalan-jalan ke Bandung, liat-liat Factory Outlet atau distro. Ngemil makanan enak yang ada di seputaran Bandung. Tapi ya, selain karena nggak punya uang lebih, juga karena sudah membayangkan Bandung pasti macet, dan memang benar, di TV saja sudah ditampilkan bagaimana kota Bandung dipenuhi mobil-mobil berplat B.
Jadi inget jaman kuliah dulu saat ayah saya belum pensiun, lumayan sering lho keluarga kami pergi ke Bandung. Apalagi setiap habis lebaran, habis terima THR plus bonus-bonusnya, pasti ke Bandung. Sekalian nyekar Nini dan mengunjungi saudara yang ada di sana.
Baju-baju di Bandung memang TOP banget, saya seneng karena akhirnya nemu baju yang ukurannya agak2 Big Size (agak atau memang gede kaliiii). Udah gitu bajunya nggak pasaran, nggak pernah tuh nemu orang dengan baju yang sama.
Lain kali, kalau sudah kerja khususnya, bawa uang sekarung … baru deh ke Bandung….Belanja sampe puas…
Kami menyewa 3 buah villa yang saling berdekatan dan masing-masing memiliki 3 buah kamar. Setelah bagi-bagi kamar tidur dan ngobrol ngalor ngidul, selepas sholat maghrib kami berkumpul di villa tempat Eyang Putri berada untuk makan malam. (kami membawa makanan dari rumah)
Sambil makan, kami melanjutkan obrolan sambil berkaraoke ria (pamanku niat banget bawa satu set karaoke dari rumahnya).
Agak malamnya barulah kami, cucu-cucu, yang minta izin pergi jalan-jalan untuk menikmati jagung bakar di Puncak. Sepanjang jalan menuju Puncak Pass banyak ditemui warung-warung yang selain menjajakan jagung bakar dan minuman hangat, juga memajang perempuan-perempuan muda nan cantik. Tau kan maksudnya ????
Akhirnya kami berhenti di salah satu warung yang berada di kawasan Puncak Pass yang sekiranya tidak ada wanita nakal di situ. Lucunya, kami perempuan berlima sementara lelakinya cuma satu (suaminya sepupu saya).
Payah …. yang lain nggak mau ikut. Padahal tadinya kita-kita malamnya mau ke coffe house-nya penginapan, nonton orang-orang nyanyi and main billiard. Tapi ternyata eh ternyata semua pada capek…Memilih tidur nemenin anak-anaknya (padahal kan ada baby sitter gitu lho), nggak mau ikut nemenin makan jagung bakar.
Jadilah kami bercanda-canda, mengira-ngira apa yang ada di benak orang lain melihat kami, lima perempuan bersama seorang lelaki dalam sebuah mobil. Mungkin begini pendapat orang-orang :
“Wah, ini lagi ngedrop perempuan-perempuan baru”
atau
“ Hebat banget tuh orang bisa dapet perempuan sebanyak itu, raja minyak dari mana tuh ??”
Hahahaha…… Setelah menikmati segelas bandrek susu plus jagung bakar tentunya serta diiringi musik dari lagu-lagu band masa kini, yang dilantunkan pengamen yang khusus memainkan request lagu dari kami , kami pun pulang kembali ke penginapan. Langsung tidur….Brrrrr……….Dingin banget udaranya.
Bye the way bus way…
Seperti yang telah diduga sebelumnya, liburan kali ini kami hanya numpang tidur saja sekalian berenang sihh. Yah, sekalian saling mengakrabkan diri antar saudara juga. Saya mengharapkan bisa jalan-jalan ke kebun teh pada pagi hari, menikmati udara yang sejuk atau ikut kegiatan outbond dll. Namun ternyata kami hanya jalan-jalan di seputaran penginapan saja. Siang harinya, saat pulang kami mampir di Museum Dinosaurus dan taman bermain atau arena outbond mini yang ada di sebelahnya. Tidak begitu menarik bagi orang dewasa, namun menarik bagi anak kecil alias cicit-cicitnya Eyang. Senang juga melihat mereka tertawa senang atau bahkan menangis ketakutan ketika akan bermain flying fox.
Ughh…anak sekarang enak banget, banyak arena bermain yang menarik. Zaman saya kecil dulu, paling main manjat pohon mangga… trus ngerujak deh, atau bermain permainan tradisional seperti : benteng, kelar, karet, congklak, atau main kemah-kemahan di seputaran komplek. Tapi pengalaman saya dulu lebih asyik ah..Lebih memorable gitu (bener nggak nih tulisannya??)
Selanjutnya kami makan bersama di sebuah restoran, yang membayar adalah sepupu saya yang berulang tahun sekaligus syukuran karena diterima kerja sesuai impiannya dan telah menjadi pegawai tetap di Astra Internasional.. Enaknya…….
Kami pun berpisah menuju rumah masing-masing. Saya sekeluarga mampir dulu di Bogor beli roti unyil sekalian mencari gandaria, buah yang sering digunakan sebagai pelengkap untuk membuat sambal. Lebih enak makan kalau pakai sambal gandaria… Ternyata roti unyil Venus, yang sudah pindah (sekarang nggak dekat asinan bogor lagi), tetap saja ramai pembeli. Kami bahkan susah untuk memesan roti, harus teriak-teriak berebutan dengan orang lain.
Ehmmm liburan kali ini termasuk liburan yang biasa-biasa saja bagi saya. Pengennya sih jalan-jalan ke Bandung, liat-liat Factory Outlet atau distro. Ngemil makanan enak yang ada di seputaran Bandung. Tapi ya, selain karena nggak punya uang lebih, juga karena sudah membayangkan Bandung pasti macet, dan memang benar, di TV saja sudah ditampilkan bagaimana kota Bandung dipenuhi mobil-mobil berplat B.
Jadi inget jaman kuliah dulu saat ayah saya belum pensiun, lumayan sering lho keluarga kami pergi ke Bandung. Apalagi setiap habis lebaran, habis terima THR plus bonus-bonusnya, pasti ke Bandung. Sekalian nyekar Nini dan mengunjungi saudara yang ada di sana.
Baju-baju di Bandung memang TOP banget, saya seneng karena akhirnya nemu baju yang ukurannya agak2 Big Size (agak atau memang gede kaliiii). Udah gitu bajunya nggak pasaran, nggak pernah tuh nemu orang dengan baju yang sama.
Lain kali, kalau sudah kerja khususnya, bawa uang sekarung … baru deh ke Bandung….Belanja sampe puas…
Libur Telah Tiba…
Banyak orang yang tidak sabar menantikan datangnya hari di pertengahan Maret ini. Mengapa ?? Ohhh rupanya pada penanggalan kalendar di republik ini, Kamis dan Jumat tanggal 20 dan 21 Maret adalah tanggal merah alias hari libur. Kedua tanggal tersebut merupakan hari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Wafatnya Yesus Kristus. Dan karena langsung disambung dengan hari Sabtu dan Minggu, jadilah libur 4 hari itu sangat disyukuri oleh para pekerja guna dimanfaatkan untuk menyegarkan pikiran dan berlibur bersama keluarga.
Sebagai seorang pengangguran tentunya saya tidak terpengaruh dengan tanggal merah seperti itu, karena toh di hari-hari biasa saja saya memang libur, kecuali hari-hari dimana ada panggilan kerja. Bukan hal istimewa, namun tentu saja saya senang karena memang sejak awal tahun ini sudah direncanakan bahwa keluarga besar kami akan berkumpul untuk menghabiskan waktu bersama ketika ada libur panjang. Kalau sudah begitu siapa yang menolak untuk pergi berlibur…
Akhirnya kami sepakat berlibur di Puncak. Sebagai anak tertua, ayah saya hanya tinggal terima beres dan tidak ikut campur mengenai reservasi penginapan dan lain sebagainya. Ayah hanya ikutan menyumbang biaya sesuai bagian masing-masing.
Pada hari H ( Sabtu, 22 Maret 2008) kami berangkat masing-masing. Keluarga kami berangkat dari Bekasi pukul 10.00 WIB karena sebelumnya kami mengira akan beriringan dengan Eyang Putri yang berada di Tambun, di rumah tante saya. Padahal kami sudah siap sejak pagi karena sebelumnya diberitahu akan berangkat bersama pukul 09.00 WIB. Namun satu dan lain hal, mungkin juga karena Eyang Putri yang memang suka lama segala sesuatunya (maklum sudah tua dan pikun), kami akhirnya berangkat sendiri-sendiri.
Beberapa keluarga lainnya ada yang sudah berangkat ke Puncak dari Kamis, namun di lokasi berbeda. Kami sepakat berkumpul hari Sabtu, di Surya Indah di daerah Cipanas. Untunglah ada handphone, jadi komunikasi dapat terjalin sehingga kami dapat menemukan penginapan Surya Indah tersebut. Untung juga jalanan menuju Puncak lancar, mungkin karena sudah hari ketiga libur jadinya tidak terlalu ramai. Kami tiba pukul 14.00 WIB, itu karena kami mampir dulu makan siang di jalan sambil menikmati panorama Puncak.
Sebagai seorang pengangguran tentunya saya tidak terpengaruh dengan tanggal merah seperti itu, karena toh di hari-hari biasa saja saya memang libur, kecuali hari-hari dimana ada panggilan kerja. Bukan hal istimewa, namun tentu saja saya senang karena memang sejak awal tahun ini sudah direncanakan bahwa keluarga besar kami akan berkumpul untuk menghabiskan waktu bersama ketika ada libur panjang. Kalau sudah begitu siapa yang menolak untuk pergi berlibur…
Akhirnya kami sepakat berlibur di Puncak. Sebagai anak tertua, ayah saya hanya tinggal terima beres dan tidak ikut campur mengenai reservasi penginapan dan lain sebagainya. Ayah hanya ikutan menyumbang biaya sesuai bagian masing-masing.
Pada hari H ( Sabtu, 22 Maret 2008) kami berangkat masing-masing. Keluarga kami berangkat dari Bekasi pukul 10.00 WIB karena sebelumnya kami mengira akan beriringan dengan Eyang Putri yang berada di Tambun, di rumah tante saya. Padahal kami sudah siap sejak pagi karena sebelumnya diberitahu akan berangkat bersama pukul 09.00 WIB. Namun satu dan lain hal, mungkin juga karena Eyang Putri yang memang suka lama segala sesuatunya (maklum sudah tua dan pikun), kami akhirnya berangkat sendiri-sendiri.
Beberapa keluarga lainnya ada yang sudah berangkat ke Puncak dari Kamis, namun di lokasi berbeda. Kami sepakat berkumpul hari Sabtu, di Surya Indah di daerah Cipanas. Untunglah ada handphone, jadi komunikasi dapat terjalin sehingga kami dapat menemukan penginapan Surya Indah tersebut. Untung juga jalanan menuju Puncak lancar, mungkin karena sudah hari ketiga libur jadinya tidak terlalu ramai. Kami tiba pukul 14.00 WIB, itu karena kami mampir dulu makan siang di jalan sambil menikmati panorama Puncak.
Langganan:
Komentar (Atom)