Selasa, 25 Maret 2008

Dosenku Ganteng.... Mirip Ari Wibowo

Ehmmm….melanjutkan cerita mengenai para dosen yang pernah mengajarkan saya. Ada satu kisah menarik tentang dosen saya ini, maka saya menuliskannya secara terpisah…

Pak Kurnya Roesad, itulah namanya.

Beliau pernah dua kali mengajar saya saat kuliah dulu yaitu :
Teori Ekonomi Makro I
Teori Ekonomi Makro II

Pak Kurnya sangat bersemangat dalam memberikan pelajaran, cuma karena beliau mengajar menggunakan bahasa campuran Indonesia-Inggris, jadinya saya sering menebak-nebak sendiri inti persoalan ataupun maksud yang dibicarakannya. Lumayanlah buat melatih kemampuan belajar bahasa Inggris juga.

Beliau juga sangat baik pada para mahasiswanya karena beliau selalu memberikan kisi-kisi soal dan jawaban untuk ujian MidTest ataupun Ujian Akhir (Final Test). Soal dan jawaban kisi-kisi itu diberikan dalam bahasa Inggris. Memang saat ujian berlangsung soal yang keluar persis sama dengan kisi-kisi yang telah diberikan namun hanya nomernya yang diacak.

Dalam memberikan penilaian Pak Kurnya juga melihatnya berdasarkan tingkat kehadiran para mahasiswanya di kelas. Oleh karena Pak Kurnya ini adalah orang kantoran, beliau saat jam kerja sibuk bekerja di suatu lembaga (CSIS), makanya waktu mengajar Pak Kurnya pun di sesuaikan. Beliau hanya mengajar di luar jam kantornya, jadi selama dua kali diajarkan oleh beliau saya selalu kuliah pukul 18.00 WIB. Tidak heran jika saat mengajar, yang hadir hanya segelintir orang. Banyak mahasiswa, umumnya mahasiswa angkatan atas, yang hanya menitip absen pada mahasiswa lain yang hadir.

Yahh….Pak Kurnya memang tidak pernah memanggil satu persatu para mahasiswanya, daftar hadir langsung ditandatangani begitu ia masuk dan langsung ia edarkan ke mahasiswa, namun beliau tentu tidak bodoh.. Tentulah Pak Kurnya juga menghafal dan dapat membedakan mahasiswa yang sering masuk kelasnya atau yang hanya menitip absen. Kelas hanya akan penuh sesak jika menjelang MidTest ataupun Final karena para mahasiswa mengharapkan kisi-kisi soalnya.

Pak Kurnya juga nggak pernah marah kalau saat mengajar banyak mahasiswa yang tidak memperhatikan dirinya. Mahasiswa yang mengobrol sendiri ataupun yang membaca komik, asalkan tidak mengganggu mahasiswa lain yang ingin belajar. Banyak juga yang sering keluar dari kelas dengan alasan pergi ke kamar kecil namun mereka baru akan kembali setelah lebih dari 30 menit mengobrol di luar.

Thanks God…
Pak Kurnya memang adil dalam memberikan penilaian…
Bagi para mahasiswa yang menjawab hanya menghafalkan dari kunci jawaban yang telah diberikan dan daftar hadirnya memenuhi syarat minimal 75% tingkat kehadiran di kelas (maksimal 3 kali boleh tidak masuk kelas), biasanya mendapatkan nilai standar B.

Beberapa teman dan sahabat saya yang tingkat kehadirannya sama dengan saya sering merasa heran kepada saya karena saya selalu mendapat nilai A. Padahal mereka sama seperti saya, duduk di deretan depan saat di kelas, menyimak apa yang diterangkan oleh Pak Kurnya dan kami selalu kompak saat tidak masuk kelas. Tapi mengapa nilai saya yang lebih baik ???

Jangan berpikir yang macam-macam dulu....

Rahasianya adalah :
Dalam mengajar, Pak Kurnya juga memberikan catatan yang dapat di fotocopy, umumnya berbahasa Inggris. Namun saat mengajar itulah akan lebih dijelaskan pokok-pokok materi pengajarannya dengan menggunakan bahasa Indonesia campur Inggris. Selain itu biasanya juga ada beberapa tambahan yang tidak tercantum di catatan fotocopy yang diberikan.

Karena itulah walaupun kisi-kisi soal dan jawaban telah diberikan, namun saya selalu mengembangkan jawaban dari kisi-kisi tersebut sesuai dengan apa yang telah diterangkan oleh beliau. Saya juga menjawab soal dengan menggunakan bahasa Indonesia. Jadi beliau rupanya dapat membedakan mana yang memperhatikan saat beliau mengajar atau hanya mencontek dari kunci jawaban. Itulah mengapa saya selalu mendapat nilai A untuk mata kuliah yang diajarkannya.


Ehmm yang menarik dari Pak Kurnya tentunya adalah sosoknya yang “indo”. Beliau mungkin satu-satunya pengajar paling ganteng yang pernah mengajarkan saya. Tubuhnya yang tinggi, kulitnya yang putih dan wajah “indo”nya selalu membuat kami, para mahasiswi, terpesona.

Ya..…Pak Kurnya ini berdarah campuran Indonesia-Barat. (kayaknya sih Padang-AS, tapi nggak tahu juga, lupa sihhh). Namanya saja yang nggak kebarat-baratan, namun soal penampilan nggak beda jauh dengan Ari Wibowo.

Satu lagi yang suka bikin ketawa…
Saat menerangkan materi, beliau berusaha menggunakan bahasa Indonesia namun karena tidak terbiasa terkadang ada jeda waktu untuk mengingat kosakata bahasa Indonesia. Tak jarang ia menyerah dan menggunakan kosakata Inggris, kami para mahasiswanya yang akan menebak dan mentranslatenya baru kemudian beliau mengangguk atau menggeleng kalau yang kami katakan bukan yang dimaksud olehnya. Logat bicaranya lucu, nggak terlalu aneh sih, namun beda banget sama Cinta Laura Kiehl

Di balik sosok yang indo itu, Pak Kurnya adalah orang yang baik.
(Beliau juga sangat toleran pada kami yang akan sholat maghrib atau berbuka puasa dulu sebelum masuk kelas, karena itu biasanya kami masuk pukul 18.15 WIB setelah maghrib. Selain itu kami juga tahu kalau beliau juga berpuasa, karena kami biasanya sama-sama menunggu beduk maghrib tiba)

Nggak heran deh, kalau yang lebih sering masuk pada saat beliau mengajar adalah para mahasiswi yang ingin melihat ketampanan beliau. Pokoknya semangat deh menunggu hingga pukul 18.00 WIB demi melihat Pak Kurnya.

Sayangnya beliau sudah menikah jadi nggak ada harapan buat para mahasiswi untuk menggodanya…Hehehehehee…

Saat Aku Lanjut Usia

Ini saya posting salah satu lirik lagu SO7 , moga-moga ada yang masih inget :

SAAT AKU LANJUT USIA

Saat aku lanjut usia, saat ragaku terasa tua
Tetaplah kau selalu disini menemani aku bernyanyi
Saat rambutku mulai rontok, yakinlah ku tetap setia
Memijit pundakmu, hingga kau tertidur pulas

Reff :
Genggam tanganku saat tubuhku terasa linu
Peluk erat tubuhmu saat dingin menyerangmu
Kita lawan bersama, dingin dan panas dunia
Saat kaki tlah lemah, kita saling menopang
Hingga nanti di suatu pagi
Salah satu dari kita mati
Sampai jumpa… di kehidupan yang lain

Saat perutku mulai buncit
Yakinlah ku tetap terseksi
Tetaplah kau selalu menanti
Mengingatku di malam hari

Back to Reff

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa II

Berikut ini adalah nama beberapa dosen yang pernah mengajarkan saya saat kuliah di fakultas ekonomi beberapa tahun lalu :

Bu Theresia Pudjiastuti :

Ketua Jurusan (Kajur) Ekonomi Pembangunan, sekaligus dosen Pengantar Ekonomi Mikro, Ekonomi Moneter I dan II. Beliau ini yang selalu dijadikan tempat konsultasi anak-anak organisasi Himpunan Mahasiswa Jurusan kami.

Bu Siti Saadah :

Mantan Kajur (sebelum bu Pudji) dan merupakan Pembimbing Akademik (PA) mahasiswa angkatan 2000. Selain itu beliau menjadi dosen saya dalam mata kuliah : Pengantar Ekonomi Makro dan Teori Ekonomi Mikro I. Bu Siti termasuk dosen yang sangat baik dan mengerti dengan keadaan mahasiswanya.

Pak YB Suhartoko :
Dosen Matematika Ekonomi I dan II ini juga merupakan Pembimbing Skripsi saya. Walaupun tidak begitu dekat dengan Pak Suhartoko namun beliau cukup baik di mata para mahasiswanya.

Pak Sudjana :

Dosen Statistika I dan II ini adalah seorang professor dari ITB. Beliau memang sudah berusia lanjut namun semangatnya mengajar masih tinggi. Walaupun secara materi beliau tidak mengalami kekurangan (apalagi anak-anaknya sudah sukses semua), namun beliau masih saja memanfaatkan kendaraan umum untuk pergi dan pulang dari kampus. Sifatnya yang bersahaja dan logatnya yang “Sunda banget” membuat kami para mahasiswanya kagum pada beliau.

Pak Petrus Pius :
Dosen Evaluasi Proyek namun lebih dikenal sebagai Pembantu Rektor III (PUREK III). Beliau inilah yang membawahi dan menangani segala bentuk kegiatan mahasiswa, misalnya saja Senat, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Tanpa izin dari Pepi (panggilan untuk beliau dari para mahasiswa) maka mahasiswa yang akan mengadakan suatu kegiatan tidak dapat berbuat apa-apa.

Pak Argamaya :
Dosen Ekonomi Keuangan I dan II ini sebenarnya mungkin tidak membutuhkan materi dari hasil mengajarnya, namun beliau hanya ingin membagi pengetahuan dan pengalamannya saja dalam hal ekonomi keuangan. Beliau ini merupakan salah satu “pemain” dalam bursa saham Indonesia. Keuntungan yang dihasilkan dari berinvestasi itu seringkali membuatnya royal terhadap mahasiswanya. Tidak jarang beberapa mahasiswa diajaknya untuk makan bersama. Pak Argamaya inilah yang sedikit banyak membantu dalam hal penyelesaian skripsi saya yang terkait dengan mata kuliah yang diajarkannya.

Bu Engelbertha :
Dosen Ekonomi Ketenagakerjaan ini selain terkenal sedikit galak dalam mengajar namun juga modis dalam hal berpakaian. Di luar jam pelajaran, Bu Engel ternyata orangnya sangat baik dan suka bercanda juga.

Pak Adji :
Dosen Teori Ekonomi Mikro II ini selayaknya orang jawa yang selalu bersikap sopan santun, dalam menghadapi mahasiswanya Pak Adji terlalu baik, sampai-sampai mahasiswa yang nggak tahu diri sering memanfaatkan kebaikannya.

Sheila on 7…Where are you ??

Sheila on 7, mendengar namanya mungkin sebagian besar orang di Indonesia merasa sudah tidak asing lagi. Salah satu band ternama asal Yogyakarta ini, sudah lama tidak terdengar kabarnya. Keberadaan Sheila on 7 semakin hari semakin tenggelam di tengah derasnya arus band-band baru yang semakin banyak muncul di peta musik Indonesia. Apalagi sang gitaris dan drummernya belakangan sering muncul dengan band barunya Jagostu, sementara Adam dan Duta jarang terlihat. Mulai Maret ini saja Duta rutin muncul di TV dengan sosok berbeda. Dengan kumis tipisnya, Duta berubah menjadi “Om Duta“ dan menjadi komentator pada acara Menuju Pentas Idola Cilik di RCTI.

Apakah ini pertanda Sheila on 7 akan bubar seperti diramalkan banyak orang?

Saya jawab, “ TIDAK…...alias NOOOooooooooooo…….JANGAN……………….”

Sebagai salah seorang anggota Sheila Gank, saya tidak setuju dengan pendapat orang-orang bahwa Sheila on 7 ” telah mati”. Walaupun para personelnya sibuk dengan urusannya masing-masing, namun mereka tetap setia pada Sheila on 7. Mereka tetap memikirkan musik apa kira-kira yang disukai pendengar musik Indonesia namun tetap berciri Sheila on 7.
Jadi, tunggu saja, tahun 2008 ini Sheila akan menggebrak panggung musik Indonesia kembali. Saya jadi nggak sabar nunggu nih…..


Ehm bicara tentang Sheila on 7 (SO7), bagi saya tentu akan mengingatkan saya pada masa-masa SMA, dimana mereka juga sedang berjaya saat itu. Saya ingat, pertama kali SO7 muncul di layar kaca Indonesia dengan lagu ‘KITA’, yang merupakan soundtrack dari sinetron Lupus yang tayang di Indosiar. Video klip yang keluar tahun 1997 itu menampilkan beberapa pemain Lupus serta personil SO7 ketika itu yaitu : Adam (bass), Anton (drum), Duta (vocal), Erros (gitar) dan Sakti (gitar).

Saya tidak suka dengan penampilan SO7 di video klip ‘KITA’, sama seperti ketika saya melihat video klipnya Kangen Band… Hi hi hi…..
Menurut saya make up mereka terlalu ‘medok’, kelihatan sekali dibedakinnya (mukanya keputihan sementara lehernya tidak ditaburi bedak, jadinya belang)
Sorry lho mas-mas, tapi bener kok, kelihatan kampungan banget.

Pada awalnya saya memang tidak begitu memperhatikan keberadaan SO7, apalagi waktu itu infotainment belum seheboh sekarang. Ketika dibahas KOMPAS saja saya masih biasa saja, padahal bahasannya lengkap banget, mengenai awal pertemuan mereka plus alamat rumah masing-masing personilnya. Klipingan koran itu digunting karena teman adik saya ada yang suka banget sama SO7 jadi mau dikasih sama adik saya. Tapi gara-gara digunting, jadi keburu hilang duluan nggak tahu kemana.
Nyesel saya, tahu bakalan ngefans abis begitu, saya simpan deh.

Namun karena fenomena SO7 sebagai band pertama yang telah menghasilkan album di atas 1 juta kopi, membuat mereka sering muncul di majalah remaja. Sebagai pelanggan majalah GADIS, wajah SO7 sering masuk di majalah itu dan semenjak itu saya mulai mengenal sosok personil SO7 sepenuhnya dan perlahan mulai menyukai SO7. Apalagi logat “medok” dan sifat mereka yang down to earth sekaligus lucu-lucu itu lama kelamaaan membuat hati ini terpikat. Setelah mendengarkan semua lagu yang dibawakan oleh Duta cs, membuat saya semakin tergila-gila.

Saya suka lagu-lagu SO7 terutama ciptaan mas Erros Chandra karena musiknya yang easy listening, liriknya yang sederhana dan terkadang puitis, namun mengena di hati. Tema yang diambil juga beragam, tidak melulu tentang cinta antar pasangan. Walaupun bertema cinta tapi dikemas dengan sudut pandang berbeda..

Misalnya saja yang berjudul “ Saat Aku Lanjut Usia ”, berkisah tentang cinta seseorang dan ia mengharapkan pasangannya tetap setia walau apapun yang terjadi hingga maut memisahkan mereka. Lagu ini sedikit berirama country menurut pendengaran saya. Musik SO7 sangat beragam sehingga tidak membosankan, beda dengan Ungu. Itu menurut saya lho…

Namun yang membuat saya selalu menunggu penampilan SO7 di TV terutama saat-saat ini adalah karena saya kangen dengan masa lalu.
Yaaa, dengan mendengarkan sebuah lagu dari SO7 saya akan terkenang akan sesuatu. Memang memori itu yang tidak bisa dilupakan, sama halnya seperti ketika saya makan nasi kuning pasti akan teringat nasi kuning idaman kesukaan saya semasa kecil (hanya ada di Palu lhooo letaknya di sebelah gereja… enak tenan, maknyusss pokok e). Rasanya yang enak dan berbeda serta kenangannya itu yang membuat saya selalu membandingkannya dengan yang lain. Memori itulah yang akan selalu kita ingat.

“Bersenang-senanglah karena hari ini yang kan kita rindukan, di hari nanti, sebuah kisah klasik untuk masa depan”

Lirik lagu “Kisah Klasik Untuk Masa Depan”, mengingatkan saya pada teman-teman masa kecil saya dulu.
“Betapa senangnya kami pada masa kecil dulu dan bagaimana keadaan mereka sekarang?”, begitu pikiran saya melayang setiap mendengar lagu ini

Tahu nggak ?

Saking ngefans sama Sheila on 7, saya sampai ngebet banget bisa lolos SPMB dan masuk Universitas Gajah Mada. Supaya dekat mereka, siapa tahu bisa temenan, begitu pikir saya. Ehmm bukan karena SO7 saja deh, mungkin karena banyak teman masa kecil saya tinggal di sana jadi pengen ketemu dan berakrab-akrab lagi dengan mereka. SO7 sudah seperti kakak maupun teman bagi saya. Walaupun mereka tidak mengenal saya, tapi sifat mereka yang ramah dan terkesan sangat akrab membuat saya merasa mereka selayaknya teman-teman masa kecil saya dulu.

Sayangnya cita-cita saya masuk UGM tidak terwujud. Ketika pengisian formulir SPMB saya malah semakin bingung karena disana sini banyak yang berpendapat (orangtua khususnya), akibatnya saya tidak memilih UGM dan karena itulah sepertinya strategi saya salah. Semua universitas yang saya pilih berada di rayon yang sama, padahal syaratnya harus ada salah satu pilihan yang berada di luar rayon. Padahal saya yakin sekali soal-soal IPS saya kuasai dengan baik. Hik hik hik………..hik

Tetapi tidak apa-apa. Mungkin nasib saya yang belum beruntung dan Allah SWT telah menakdirkan hal lain pada saya.

Coba tebak….
Suatu sore hari, ketika saya dan seorang teman menunggu mata kuliah berikutnya yang berlangsung pukul 18.00 WIB, karena bosan menunggu kami pun berjalan-jalan di seputaran kampus dan tiba-tiba saja duduk di halte depan gerbang masuk Universitas. Kebetulan saat itu bulan puasa dan musholla ada dekat situ, jadilah saya sholat Ashar terlebih dahulu. Teman saya tetap menunggu di halte karena ia berbeda agama. Seusai sholat saya kembali ke halte depan dan kembali melanjutkan obrolan kami. Tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh kurus ceking yang memasuki gerbang dan bertanya pada orang yang lewat. Entah ia menanyakan apa, tetapi yang jelas sosok tubuh kurus ceking itu adalah Duta SO7. Setelah tahu lokasi yang dicari ia menoleh dan memanggil temannya. Rupanya mobil mereka parkir di depan gerbang kampus. Dan orang yang keluar dari mobil tersebut adalah Sakti SO7.

Oh My God….saya nggak bisa ngomong apa-apa, cuma bisa bengong melihat mereka. Ternyata mereka menuju ke arah musholla, mungkin mereka mau sholat atau ada acara buka puasa bersama sekaligus wawancara dengan radio kampus. Kami tidak tahu pasti, karena sampai tiba adzan Maghrib mereka tidak muncul kembali. Di musholla pun tidak ada, dan karena saya harus buru-buru kuliah saya pun pergi dari tempat itu.

Benar-benar pengalaman yang membuat hati deg-degan. Saat itu saya belum memiliki HP berkamera karena masih belum banyak beredar, jadi saya tidak bisa berfoto bareng. Lagian malu juga, soalnya orang lain bersikap biasa saja. Memang, orang Jakarta yang intelek nggak akan “heboh” bila bertemu idolanya.

Perpecahan di kubu SO7 tidak mengurangi kualitas maupun ciri khas musik Sheila on 7. Keluarnya Anton dan Sakti tidak terlalu berpengaruh karena sebagian besar “roh Sheila on 7” ada pada diri Erros Chandra sang penggubah lagu-lagu SO7. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada peran serta personil lainnya, tetapi Mas Erros inilah yang pintar meramu musik dan lirik demi menghasilkan karya-karya hebat.

O iya, apakabar ya mas Anton dan mas Sakti sekarang? Nggak nyangka mas Sakti bisa berubah jadi ‘santri banget’, padahal dulu yang paling dandy lho, penampilannya paling oke diantara yang lainnya (yang terkesan cuek bebek itu). Aku suka banget dulu liat penampilan mas Sakti.


Jujur, ada perasaan malu jika menyebutkan Sheila on 7 sebagai band idola. Nggak tahu kenapa, mungkin karena orang sering merendahkan mereka, dibandingkan jika menyebut nama Dewa, Gigi atau PADI. Apakah karena penggemar SO7 kebanyakan perempuan dan berasal dari daerah?
Padahal lagu-lagu SO7 nggak kalah bagus dengan lagu-lagunya mereka. Apalagi dengan band-band ngetop sekarang seperti Peterpan, Samson, Nidji, Ungu, Radja, dll.

Tapi SO7 akan tetap di hati saya, sampai kapan pun lagu-lagunya, khususnya dari album pertama, akan selalu terngiang di hati dan ingatan saya.

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa I

Masih ingatkah kalian dengan guru yang telah mengajar kalian ?

Kali ini saya mau berbagi cerita tentang para pahlawan tanpa tanda jasa yang pernah memberikan pelajaran pada saat sekolah.

Berikut ini adalah nama-nama guru yang masih saya kenang :

1. Bu Marni & Bu Bertha, TK Putra Palu

Kedua nama ini adalah nama guru TK saya yang masih saya ingat sampai sekarang. Alasannya, karena saya masih menyimpan foto bersama beliau berdua jadi saya masih ingat walaupun saya sudah lupa pengalaman saya bersama beliau berdua. Yang saya ingat, bu Marni adalah Kepala Sekolah TK Putra saat adik saya Atta masuk di TK tersebut.

Yang saya ingat dari masa TK saya adalah saat-saat pembagian makanan tambahan yaitu bubur kacang hijau, kami murid-murid harus mencuci sendiri peralatan makan kami. Selain itu, di hari-hari tertentu di TK kami menjadi sangat ramai dengan kehadiran anak balita karena TK kami juga merupakan tempat kegiatan Posyandu. Jadi kami saat menunggu jemputan kami senang melihat-lihat adik-adik bayi yang sedang ditimbang berat badannya.

2. Bapak Ngati Laturu, SDN 1 Tatura Palu

Guru kelas II, ini masih saya ingat jelas karena namanya yang aneh. Selain itu saya masih ingat dengan sosok Bapak Ngati Laturu ini. Mukanya sih sudah lupa, saya sering membayangkannya seperti Bapak AT Mahmud, pencipta lagu anak-anak. Saya yang masih SD kelas II sangat terkesan dengan kehadiran bapak guru ini, yang walaupun sudah tua dan terlihat lemah namun masih bersemangat mengajarkan kami, murid-muridnya. Yang saya ingat guru saya ini selalu tidak lepas dari rokoknya.

3. Bu Hamrihar, SDN 3 Palu

Guru matematika ketika saya kelas V dan VI ini sebenarnya juga merupakan guru les saya. Banyak murid yang belajar matematika di rumah bu Hamrihar. Beliau adalah guru yang baik hati dan sangat perhatian dengan muridnya. Kebetulan beliau adalah ibu dari teman sekelas adik saya Pei, yang bernama Isti. Yang saya ingat, ketika EBTANAS kan yang mengawasi adalah guru dari sekolah lain, Bu Hamrihar akan keliling kelas memperhatikan kami murid-muridnya.

Mungkin karena takut nilai matematika murid-murid yang telah diberikan les olehnya jelek, maka bu guru ini akan menunjukkan jawaban yang kita tidak tahu. Beliau akan melihat mana soal yang belum kita jawab, dan sambil memegang soal yang tentunya telah dikerjakan olehnya ia akan menunjukkan jawabannya. Hehehehe….enak ya… Tapi nggak semua lhoooo, saya juga pernah di kasih tahu jawaban soal yang saya belum isi, tapi saya juga berusaha mencari jawabannya terlebih dulu.

4. Bu Lin dan Pak Rasyid, SDN 3 Palu (Kelas VI)


Kedua guru ini terkenal galak di sekolah. Bu Lin adalah guru olahraga (wajar kan?) sementara Pak Rasyid adalah walikelas VI saya. Sebenarnya mungkin bukan galak, hanya tegas saja. Apalagi Pak Rasyid, sebenarnya baik hati hanya saja karena ia adalah walikelas VI maka ia dituntut harus bersikap tegas pada murid-muridnya supaya lebih memperhatikan pelajaran karena jika kelas VI harus serius belajar untuk ujian akhir.

5. Guru Elektronik dan Fisika SMPN 2 Depok (Kelas I)

Walaupun hanya setahun di SMP ini tapi ada satu kejadian yang membuat saya tidak akan pernah lupa. Kedua nama guru ini saya lupa namanya. Maaf lho Pak…Bu…Guru….

Saat itu nilai elektronik saya jelek banget (namanya juga baru pertama kali belajar elektronik) kami yang bernilai jelek disuruh melakukan scot jump (bener nggak nih tulisannya?). Saya kan pindahan dari daerah dan saya sama sekali nggak tahu apa itu scot jump jadinya saya nanya. Eh Bapak itu malah ketawa dan ngeledek saya…Jengkel banget deh perasaan saya saat itu apalagi kejadian itu terjadi dihadapan teman-teman sekelas.

Kalau bu guru fisika, masalahnya gara-gara kami sekelas tidak mengikuti pelajaran lab fisika, maka bu guru ini pun ngambek nggak mau mengajar fisika di kelas kami lagi sebelum kami membawa surat perjanjian dari orang tua. Yah…Kami kompak tidak masuk lab karena ada yang mengajak (provokatornya hebat tuh, saya lupa ada masalah apa sebelumnya)

6. Bu Tiur Guru Geografi SMPN 2 Bekasi (Kelas II)

Aduh, kok saya lupa yah namanya …padahal guru ini terkenal killer di kalangan murid-murid. Ibu ini kalau mengajar suaranya lantang dan keras sekali (maklum orang Batak) sehingga murid-murid pada takut. Ibu ini juga suka asal nunjuk kalau lagi menerangkan pelajaran, sehingga bikin kita-kita takut, jadinya harus selalu baca pelajaran yang akan diajarkan sebelumnya. Karena jika tidak bisa menjawab, bakalan kena omelan panjang lebar. Yang hebat dari bu guru ini adalah beliau sering menerangkan sesuatu di luar pelajaran namun masih berkaitan dengan pelajaran geografi sehingga kami bertambah wawasannya. Catatan yang diberikan olehnya sangat lengkap dan bermanfaat bagi kami meski kami telah tamat dari pengajarannya. Makanya saya menyesal sekali ketika tahu catatan geografi saya saat itu sudah dibuang oleh orang rumah. Karena bagi saya, catatan pada saat beliau mengajar penuh dengan pengetahuan umum.
Ehm sedihnya, saya dengar beliau sudah meninggal dunia saat saya kuliah. (Adik saya Atta juga pernah diajar olehnya lho…dan cara mengajarnya tidak berubah)

7. Bu Woro, Guru Sejarah SMPN 2 Bekasi (Kelas II)

Saya memang sangat suka akan sejarah. Senang sekali bisa mengetahui sejarah dan cerita dari masa lalu. Bu Woro ini kalau mengadakan ulangan harian seringkali memberikan iming-iming berupa hadiah uang atau cokelat silverqueen pada yang nilainya paling bagus. Sedangkan yang mendapat nilai terjelek harus mengumpulkan uang (Rp 500 atau lebih deh) untuk memberikannya kepada yang nilainya bagus. Makanya saya senang sekali mendapat nilai bagus pada pelajaran sejarah. Boleh nggak sih metode pengajaran seperti ini ?

8. Bu Ririn, Guru PPKN SMPN 2 Bekasi

Ini adalah ibu guru paling modis dan selalu memperhatikan penampilan. Nggak heran, karena suaminya menurut kabar yang beredar adalah orang yang lumayan kaya. Jarang sekali kan guru pada saat itu yang mengajar ke sekolah memakai make up lengkap. Maskara, eye shadow dan blush on nggak pernah lupa dipakainya, apalagi lipstick yang merupakan make up wajib para ibu guru lainnya. Segar juga melihatnya, warna warni, nggak pernah sama, selalu disesuaikan dengan pakaiannya.

9. Bu Meity, Guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Bekasi (Kelas II)

Selain sejarah saya suka pelajaran bahasa Indonesia. Bu Meity adalah guru favorit saya ketika itu. Bu Meity ini, sama seperti saya, merupakan pindahan baru di SMPN 2 Bekasi. Saya selalu ingat masa-masa awal ketika kami sekelas saling mengenalkan diri satu sama lain, Bu Meity menyadari bahwa saya adalah murid baru juga, jadilah saya disuruh menceritakan asal usul saya.

10.Bu Sarimi, Guru Sejarah SMUN 1 Bekasi

Guru ini termasuk guru yang sudah berumur namun sangat baik hati. Beliau mengajar sambil bercerita, jadi kami murid-muridnya merasa senang karena pelajarannya jadi lebih masuk ke otak dan dapat selalu diingat.

10.Bu Indah, Guru Kimia SMUN 1 Bekasi (Kelas I, II dan II)

Bu Indah ini adalah walikelas saya saat kelas I. Inilah guru yang telah membuat saya membenci kimia setengah mati sehingga nilai rapor saya sempat kebakaran (dapat nilai merah). Menjadi guru kimia saya selama SMA, membuat saya benar-benar nggak mengerti akan pelajaran kimia. Saat mengajar suaranya sangat lantang dan keras (padahal bukan orang Batak melainkan Jawa-Bali)

(Bayangkan, beliau mengajar di dua kelas sebelah saja kami masih dapat mendengar suaranya, jadi kami bisa tahu apakah Bu Indah hari ini masuk mengajar atau tidak)

Sebenarnya Bu Indah baik, cuma karena suaranya yang keras saya agak takut untuk bertanya sehingga pelajaran yang tidak saya pahami terpaksa harus saya telan sendiri. Apalagi saat kelas I saya duduk di deretan belakang jadinya kurang jelas memahami apa yang dimaksud. (Bukan budek ya, rada telmi aja)

Pas kelas II dan III kebetulan saya duduk tepat di depan meja guru. Jadi saya sedikit banyak mengenal Bu Indah yang ternyata baik hati. Barulah saya lama-lama mengerti maksud pelajaran kimia yang diajarkan olehnya. Namun tentu saja sudah terlambat, karena pelajaran kimia saling berkaitan satu sama lain dari kelas I hingga kelas III. Dasar saya yang telmi kali ya ??

Di akhir kelas II Bu Indah hamil besar jadinya sering tidak masuk dan pas naik kelas III sempat diganti guru lain hingga saat melahirkan, namun akhirnya bu Indah mengajar saya kembali. Hebatnya selama ini bu Indah tinggal di Jakarta, beliau bolak-balik Jakarta-Bekasi untuk mengajar kami. Apalagi saat kelas I kami kan sekolah sore, jadilah Bu Indah selalu dijemput suaminya. Dan yang lebih hebatnya, ternyata Bu Indah di sela-sela kesibukan mengajarnya beliau juga sekolah lagi, S2, ditempat yang sama dengan ayah saya. Kaget juga lho ketika hadir di wisuda ayah, saya sempat melihat Bu Indah memakai toga.

Salut deh buat bu Indah…

11.Bu Lili, Guru Biologi SMUN 1 Bekasi (Kelas II)

Saya suka dengan cara mengajar beliau, mudah diikuti dan dipahami. Akibatnya nilai biologi saya sangat baik saat kelas II. Yang saya ingat, Bu Lili ini masih lajang, kasihan juga masih belum nikah pada umur yang terbilang matang. Sekarang tentu sudah menikah, ya kan Bu ?

12.Bu Endang, Guru Biologi SMUN 1 Bekasi (Kelas III)

Bu Endang ini terkenal dengan bulu matanya yang lentik. Beliau selalu memakai mascara ketika ke sekolah. Saya agak nggak suka dengan ibu yang satu ini. Baik dari cara mengajarnya maupun sifatnya yang agak-agak …..(centil/genit/memang begitu sifatnya ya?) Di kalangan murid-murid, Bu Endang ini terkenal suka pilih kasih. Memang ada benarnya juga sih keliatannya. Doi lebih suka sama anak cowok, nggak tahu kenapa. Pokoknya sifatnya lebih memihak kaum adam baik dalam hal memberikan nilai ataupun perhatian. Kalau lagi mengajar yang diperhatikan cowok melulu, yang ditunjuk untuk menjawab pertanyaan juga cowok duluan.
Atta adik saya juga pernah diajar olehnya, namun Bu Endang sudah agak berubah baik dari segi pengajaran maupun penampilannya, sekarang beliau sudah menutup aurat. Wah…Bagus banget kan

13.Pak Manurung, Guru Matematika SMUN 1 Bekasi (Kelas III)

Beliau adalah walikelas III IPA saya. Walaupun berdarah Batak, Pak Manurung sangat baik dan sopan, suaranya pun halus tidak seperti orang marah. Saat mengajar, beliau masuk kelas tidak membawa apa-apa, pelajaran matematika yang akan diajarkan olehnya sudah diingatnya. Jadi kami tinggal di suruh memberitahukan sampai mana pelajaran kemarin dan beliau langsung mengajar tanpa lihat buku. Itulah kehebatan Pak Manurung.

Namun yang membuat saya deg-degan adalah beliau seringkali menyuruh murid-muridnya mengerjakan PR di papan tulis tanpa membawa buku. Buku dibuka hanya jika menulis soal, selanjutnya dikerjakan sendiri tanpa melihat buku PR. Jadi bisa ketahuan siapa yang mengerjakan sendiri atau mencontek hasil teman. Untungnya saya duduk di depan meja guru jadinya jarang disuruh maju ke depan. Namun jika ditunjuk secara berurutan kami biasanya sudah menghafalkan cara dan jawaban dari soal PR nya.

Pak Manurung ini juga pengajar bimbel, sebelum giat merintis INTEN, beliau bergabung di Ganesha Operation. Jadinya beliau lebih senang mengajarkan matematika langsung praktek menggunakan soal-soal.

14.Pak Wartana, Guru Fisika SMUN 1 Bekasi (Kelas III)

Guru yang satu ini agak aneh menurut saya. Beliau tidak pernah mengajarkan teori-teori fisika kepada kami, tetapi langsung praktek soal-soal. Dengan menggunakan buku Olimpiade Fisika kami dituntut dapat mengerjakan soal-soal dalam buku itu. Satu per satu dari kami akan mengerjakan soal sambil membawa buku, dan jika jawabannya salah Pak Wartana ini akan membenarkannya. Intinya beliau tidak mengajarkan kami, beliau juga jarang berbicara kepada kami, lebih sering mengebulkan asap rokoknya saat jam pelajaran. Mungkin prinsipnya, dengan latihan soal kita akan terbiasa menjawab beragam persoalan yang ada.

15.Pak Sibarani, Guru Bahasa Inggris SMUN 1 Bekasi (Kelas II)

Guru yang satu ini sangat dekat dengan murid-muridnya. Selain usianya yang masih muda, Pak Sibarani juga sering bermain bola atau berolahraga bersama murid-murid cowok lainnya. Ehm satu lagi, pada pelajaran bahasa Inggris ini Pak Sibarani mengajar menggunakan metode yang jarang dilakukan oleh guru lain yaitu menonton dan membahas film berbahasa Inggris tanpa teks tersebut. Selain itu juga diadakan debat bahasa Inggris dan dilakukan perkelompok. Sungguh mengasyikkan metode ini cukup membantu meningkatkan kemampuan berbahasa kami. Selain tentunya kami harus mengisi buku soal-soal yang telah diberikan secara berkala.


























Selasa, 18 Maret 2008

PENIPUAN BERBULU DOMBA


Ada lagi iklan lowongan kerja di koran yang agak menjebak calon tenaga kerjanya. Perusahaan ini adalah perusahaan yang bergerak di bidang bursa, baik itu bursa saham maupun bursa berjangka, ataupun perusahaan yang bergerak di bidang valuta asing.

Perusahaan ini biasanya dalam iklan lowongan kerjanya tidak mencantumkan nama dan alamat perusahaannya (lebih sering memakai alamat PO BOX) maupun menjelaskan bidangnya. Selain itu perusahaan juga tidak memberikan syarat yang susah, bahkan lebih disukai yang fresh graduate. Apalagi biasanya perusahaan ini berlokasi di tempat-tempat elit perkantoran di Jakarta : Jalan Sudirman, Jalan M.H.Thamrin, Jalan H.R. Rasuna Said dan kawasan SCBD.

Tujuannya apalagi kalau bukan supaya dapat menjaring banyak calon tenaga kerja yang mau bergabung ke perusahaannya. Siapa juga yang tidak tergiur untuk bekerja di kawasan elit itu…(kata orang-orang sih elit). Selain lamaran dikirim lewat pos, seringkali perusahaan ini mengadakan walk in interview di iklan lowongan kerjanya.

Modusnya seperti ini :
Calon tenaga kerja yang dipanggil tes disuruh datang ke perusahaannya. Setelah mendaftar dan mengisi formulir, calon tenaga kerja diminta untuk menunggu interview. Saat interview itulah baru diketahui bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan yang bergerak dibidang apa.
Yang menginterview biasanya pintar mengelak jika kita menanyakan job description kita nantinya. Saat itu dikatakan kita akan mendapat posisi sesuai yang kita lamar.
(biasanya di iklan lowongan kerja yang dibutuhkan : Management Trainee, Accounting Staff, Administration Staff, Receptionist, Data Entry, Secretary)

Malahan ada beberapa perusahaan yang menyuruh kita mengikuti training seminggu di kantor tersebut. Misalnya saja pengalaman saya mengikuti training sebuah perusahaan bursa berjangka di Wisma Dharmala Sakti. Pada awal training masih dijelaskan ruang lingkup kerja perusahaan tersebut. Kita dijelaskan tentang apa itu bursa berjangka, bagaimana cara kerjanya dll. Pada hari ketiga baru diketahui bahwa jika berminat, kita boleh datang esok harinya membawa sejumlah uang untuk di investasikan di bursa berjangka tersebut. Kita boleh melakukan simulasi terlebih dahulu dan nanti diajarkan analisnya oleh pegawai disitu. Saya dan beberapa orang lainnya langsung drop dan kaget, kami pun sepakat tidak datang lagi di hari berikutnya.
Apakah ini termasuk penipuan??
Menurut saya, ini
penipuan berbulu domba .…

Adalagi MaxGain, perusahaan ini sudah terkenal di kalangan pencari kerja sebagai perusahaan yang menjebak calon tenaga kerjanya. Pada mulanya pegawai yang diterima kerja di sana dijanjikan akan menempati posisi sesuai yang dilamar dan tidak menjadi investornya, tetapi yang terjadi justru kita tidak akan mendapat bonus jika kita tidak mampu membujuk investor yang datang ke tempat tersebut untuk menanamkan modalnya. Gaji pokok yang diberikan sangat minim malahan ada yang tidak digaji jika tidak mendapatkan investor yang mau berinvestasi disitu.

Memang sebagai anak kuliahan yang belajar tentang investasi, saya mengetahui bahwa berinvestasi di bursa saham ataupun bursa berjangka ataupun valuta asing, akan memberikan keuntungan besar jika kita mengerti dengan benar cara berinvestasi/cara memilih investasi itu sendiri. Jika tidak, kita sendiri yang akan rugi..Saya sendiri yang selama lebih dari 2 semester diajarkan tentang bidang seperti itu memang sedikit memahami bagaimana cara menganalisis saham yang baik atau tidak supaya kita untung.. Namun saya memang tidak tertarik bekerja dibidang itu… Mendingan jika punya uang saya akan menginvestasikannya secara langsung, contohnya saja membuka restoran. Itu akan membuat saya lebih puas dan tenang bisa terlibat langsung. Walaupun sedikit merepotkan…

Sedikit bocoran mengenai perusahaan “penipu berbulu domba” ini :
Solid Gold
; alamatnya di Gedung Artha Graha Lt 29, ada juga di
Gedung Sona Topas Lt 10 (saya pernah ketipu disini)
PT Cipta Pesona Future ; alamatnya di Ged Mustika Ratu Lt Dasar, ada juga di Wisma Dharmala Sakti
MaxGain ; alamatnya di Gedung BEJ Lt 29 kalo nggak salah
Graha Finesa Berjangka; alamatnya di Gedung BEJ nggak tahu lantai berapa, lupa (Cuma dikasih tahu orang lain)….selain itu di Ged Graha Irama Lt 9E (pernah ditelepon)


Sedikit Tips :
Jika ditelepon suatu perusahaan dan diminta datang untuk interview dengan lokasi di sebuah gedung perkantoran, sebaiknya cari tahu terlebih dahulu informasi tentang perusahaan tersebut. Telpon 108, tanyakan nomer telepon gedung tersebut dan hubungi gedung itu. Tanyakan pada resepsionis gedung tersebut di lantai itu perusahaan apa. Jika sudah jelas, kita akan tahu dan tidak merasa terjebak ataupun merasa sia-sia telah datang ke tempat tersebut.


(Berdasarkan pengalaman pribadi)

Penipuan Berkedok Lowongan Kerja 2


Sambungan posting terdahulu…Sepulang dari PT MAM itu, Sari kembali main ke rumahku. Ternyata Sari telah menceritakan pengalamannya kepada ibu dan kakaknya, Dewi. Menurut Dewi, itu memang penipuan dan yang lebih membuat saya kaget adalah bahwa katanya setiap CV yang masuk ke PT MAM itu ada nilainya. Jadi nantinya CV yang terkumpul akan dijumlahkan dan ditukar dengan sejumlah uang. (Kata Dewi, 1 CV = Rp 500,00 atau berapalah jumlahnya tidak begitu penting).

Tetapi penipuan berkedok lowongan kerja di Koran memang bukan dilakukan PT MAM saja. Saya, sama seperti Dewi pernah mengalami hal yang sama cuma berbeda caranya saja. Perusahaannya berlokasi di Jl Dr. Saharjo No.102A Lt 4. Di perusahaan ini, calon tenaga kerja di wawancara oleh seseorang dan diminta untuk membeli barang-barang rumah tangga seperti juicer dll. Padahal posisi yang dilamar adalah sebagai staf administrasi, bukan sales. Namun oleh sang interviewer dikatakan bahwa pekerjaannya nanti memang sebagai staf administrasi namun harus menjual barang dulu. Malahan pas saya bilang nggak bawa uang banyak, Bapak itu minta uang Rp 20.000 saja untuk biaya administrasi. Saya tegas menolaknya, namun CV tidak saya minta kembali. Saya langsung buru-buru pulang, apalagi ketika itu saya ditunggu oleh ayah saya di mobil.
(maklum…kala itu saya masih baru mencari pekerjaan jadi masih belum tahu daerah-daerah di Jakarta)

Masih banyak lagi modus penipuan lowongan kerja yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan mengincar calon tenaga kerja. Padahal pengangguran seperti saya ini jelas-jelas tidak memiliki uang banyak, dan kami-kami ini tentunya sangat berharap sekali mendapatkan pekerjaan. Orang-orang yang tidak mempunyai hati nurani ini seenaknya saja memanfaatkan kami –sang pengangguran- yang sangat antusias bila melihat iklan lowongan kerja di koran.

Perusahaan yang wajib diwaspadai dan sering muncul di LOKER KOMPAS:
1. PT MAM : Ged Bumiputera Lt 29
2. PT Gamma / PT Galaxindo /whatever : Cuma inget yg cabang Bekasi yaitu di depan RS Mitra Keluarga Bekasi, masih ada cabang lain.
3. Beralamat di Wisma Benhill Lt.14 kalo nggak salah
4. Beralamat di Jl Dr Sahardjo 102A Lt 4
5. PT Kasaba Indonesia : Gedung Arthaloka
(pokoknya waspadai iklan loker dengan tulisan yang kecil2, saling berdempetan dan membutuhkan banyak karyawan tanpa syarat)



Senin, 17 Maret 2008

Penipuan Berkedok Lowongan Kerja

Baca judulnya bikin penasaran ya???

Ini kisah nyata tentang saya dan teman saya yang sama-sama pengangguran dan berniat mencari kerja..

Ceritanya awal Maret lalu, di suatu malam, tiba-tiba teman saya itu , sebut saja Sari, menelpon dan mengajak saya untuk ikut walk in interview di sebuah perusahaan. Katanya tahu dari iklan lowongan kerja halaman klasika koran Kompas. Memang kala itu disebutkan PT MAM merupakan perusahaan yg bergerak di bidang minyak dan gas, membutuhkan banyak tenaga kerja. Sebenarnya pas saya melihat iklan di Kompas itu, saya agak curiga soalnya kok butuh banyak karyawan ya? Namun saya menyambut tawaran Sari itu dengan senang hati, ikut-ikut saja siapa tahu beneran lagian sekalian jalan-jalan, pikir saya waktu itu.

Esok harinya, hari Senin, dengan pakaian rapih kami pun menuju ke PT MAM di Gedung Bumiputera Lt 29 Jl Jendral Sudirman Jakarta. Saat masuk ke PT MAM memang sedang ramai, rupanya banyak juga yg tertarik bekerja di sana. Setelah mendaftar dan menyerahkan lamaran, kami dipersilahkan menunggu di suatu tempat. Satu persatu peserta tes dipanggil untuk interview. Tiba giliran saya, saya dipersilahkan masuk menuju suatu ruangan. Pas masuk baru saya kaget, kok banyak banget meja dan petugas interviewnya. Satu meja berisikan petugas interview yang menghadapi peserta tes tersebut. Ada beberapa meja disana. Saya langsung curiga sebab saya pernah menghadapi situasi yg sama dan merupakan penipuan..

Saat wawancara, seperti biasa diajukan pertanyaan mengenai latar belakang diri saya, pengalaman kerja dsb. Tapi si interviewer ini mengajukan syarat uang administrasi sebesar 450 ribu rupiah sebagai syarat diterima bekerja. Saya heran campur kaget dan berusaha tetap tenang sambil bertanya tentang pekerjaan saya nantinya. Saya tanya apakah ini perusahaan outsourcing, dijawab olehnya bukan..karena nantinya gaji tidak dipotong cuma uang administrasi sebagai ganti kartu jamsostek dll. Terus dikatakan, kalau nanti saya ditempatkan sebagai staf administrasi di Pulo Gadung, dekat tempat tinggal saya di Bekasi. Karena tidak bawa uang saya pun menolak membayar, petugasnya bilang kalau nggak bawa uang nggak apa-apa ditunggu sampai hari Jumat. Ya udah saya bilang pikir-pikir dulu...sambil mohon diri. Saya sudah tahu itu pasti penipuan.

Setelah selesai, otomatis saya menunggu Sari di depan jalan masuk PT MAM, ehhh satpamnya menyuruh kami (saat itu banyak juga yg telah selesai interview) untuk langsung turun ke bawah. "Jangan tunggu disini!!!" , begitu satpam itu bicara pada kami yang sedang menggerombol. Saya pun turun ke bawah, menunggu di lobby depan.

Saat Sari turun, dia nanya "Eh aneh ya, perusahaannya kok minta uang". Setelah saya jelaskan bahwa saya juga diminta hal yang sama. Kami berdua sepakat bahwa itu adalah sebuah penipuan. Apalagi Sari didesak untuk menyerahkan sejumlah uang (Awalnya 500 rb, lalu karena nggak bawa uang turun jadi 250 rb, 100 rb, 50 rb sampai 5 rb rupiah) Aneh banget. Terpaksa Sari memberi 6 rb rupiah untuk membeli materai katanya. Ternyata Sari di interview oleh orang yang lebih berpengalaman mungkin supervisornya alias atasannya karena di wawancara di ruangan khusus yang cuma berdua saja. Nggak seperti saya. Lebih menyeramkan karena Sari diminta untuk mengambil uang di ATM, "ditunggu", begitu katanya. Untung Sari masih sadar tidak terhipnotis atau terpengaruh.

Kamipun mencari orang yang tadi ada di PT MAM, ternyata ada serombongan orang yang baru menyerahkan CV dan belum di interview. Setelah kami cerita, mereka jadi marah dan mengatakan bahwa ini benar penipuan...Sari nekad mau mengambil CVnya lagi. Kalau saya sih sudah pasrah terserah deh...

Kami serombongan (bersama anak2 yg belum interview tadi) naik kembali ke lantai 29, ternyata mereka(yang belum diinterview) langsung disuruh masuk ke ruangan. Sementara kami didiamkan. Akhirnya Sari mengetuk ruangan tempat interview berdua dengan saya. Petugas yang menginterview Sari awalnya bersikap ramah, namun begitu mengetahui kedatangan kami bukan untuk menyerahkan uang tetapi mengambil surat lamaran, ia langsung marah. Ia mengatakan bahwa Sari telah menandatangani surat yang menyebutkan CV yang telah diserahkan tidak dapat diambil kembali. Kebetulan saya tidak diberikan formulir tersebut tadi.
Adu argumen berlangsung di situ, Sari mencoba tetap tenang sementara Bapak itu marah setengah mati. Pada akhirnya resepsionis datang mengingatkan ada tamu untuk Bapak itu, Sari tetap kekeuh meminta CVnya. Akhirnya Bapak itu bilang Boleh...tapi nanti jam 3 sore..Sari menjawab "OK. Kami tunggu!!"

Saya pun mendatangi ruangan interview saya tadi dan mencari Bapak yang meniginterview saya, tetapi sedang makan kata orang yg disitu. Kamipun menunggu di resepsionis, tak berapa lama ternyata surat lamaran kami berdua dikembalikan. Lengkap.....

Ternyata nasib kami masih mujur, walaupun Sari rugi 6rb rupiah. Namun pas perjalanan pulang, kembali nasib sial menghampiri kami. Di bus ada pengamen yang keliatannya sedang mabuk dikit atau emang gila...Doi menghujat dan mengejek kami, terutama Sari yang memakai rok pendek, bahkan agak menyinggung agama segala. Entahlah...Memang kami tidak memberi uang karena lagi asyik bercerita tentang masalah tadi...Sari yang orang Batak asli rupanya takut juga. Akhirnya kami turun di Jatibening (pintu tol Pondok Gede Timur), dan mengganti bus lain padahal di luar sedang hujan deras....Yahhhh hujan mendingan daripada diganggu orang gila begitu yang Sari katakan pada kondektur bus....

OUT and CC




OUT (Bebas) itu judul novel karangan Natsuo Kirino. Pemenang Japan’s Grand Prix for Crime Fiction tahun 1998.


Novel ini adalah buku terlama yang pernah saya baca. Bahkan belum selesai sampai postingan ini dibuat. Di buku ini tertanda 29 Juni 2007, berarti saya telah membuka sampul plastik buku ini hampir setahun yang lalu..Nggak tahu kenapa kalau mau baca novel ini bawaannya males banget. Ngeliatnya aja udah jiper duluan. Bukunya tebel bennnneeeeerrrrrr….571 halaman.

Padahal harusnya saya semangat membacanya karena OUT ini saya dapatkan melalui perjuangan….(Cieee kayak mau ngapain aja) Hehehehe…..
Novel ini adalah hadiah kuis dari Cita Cinta, salah satu majalah dwimingguan wanita yang punya motto : cerdas, ceria, cantik. Kebetulan saya memang pembaca setia CC. Saya mengirim kuis via sms, iseng-iseng saja tadinya, ngirimnya juga cuma sekali. Ehhh dewi fortuna lagi deket-deket and berpihak pada saya rupanya…


Sore-sore, saat lagi nunggu bus mau pulang kantor, ada telepon dari mbak-mbak CC. Nggak nyangka, soalnya sebelumnya (kurang lebih 6 bulan sebelumnya) saya pernah menang kuis CC juga, nonton bareng Jiffest.
Sedih nggak sihhh membayangkan saat itu, dimana saya masih bekerja di sebuah perusahaan di Gedung Manggala Wanabhakti. Saya terpaksa minta ijin datang ke kantor agak siangan karena mesti mengambil hadiah novel OUT itu di kantor CC di daerah Kuningan. Nggak jauh sihhh….
Hik hik hik…….emang nasib…sekarang saya masih pengangguran


Back to the novel…..

Apakah karena buku itu ada di hadapan saya bukan karena saya beli sendiri sehingga saya males membacanya?? Atau karena jalan ceritanya yang kurang menarik??
Entahlahh….

Yang jelas genre buku ini saya suka, yaitu tentang pembunuhan (agak2 kriminal gitu dehhh….bukan berarti saya agak psikopat, seneng dengan hal-hal kriminal, tapi memang saya suka buku yang agak2 penuh misteri, petualangan dan mesti berpikir, gitu kira-kira istilahnya ) Yah kayak novel2 nya Agatha Christie, John Grisham, Alfred Hitchock atau buku petualangan jadul macam Lima Sekawan, STOP, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga, dll (Wah bisa ketahuan nih umurnya…. dibilang angkatan 80 an atau 90 an yah??)


Tapi balik lagi ke novelnya, memang akhir2 ini semenjak jadi pengangguran saya jadi malesss banget baca yang berat2 and sedikit mikir. Sekarang lebih suka baca yang lucu-lucu dan ringan aja kayak bukunya Raditya Dika (Seneng deh bisa ngakak melihat kekonyolan Dika dan Edgar adiknya) Atau Traveler's Tale Belok Kanan : Barcelona!, biar sekalian berimajinasi berada di daerah yang disebutkan Adhitya Mulya cs di buku tsb.
Padahal jaman kerja dulu, di jalan menuju kantor di sempet2in baca..Memang nggak hanya baca aja sih, nonton pertandingan bola di TV aja udah males. Jarang banget nonton Milan tanding nih…Padahal saat kuliah dulu walaupun besoknya mesti kuliah, mesti nonton Maldini cs dulu…


Wah jadi ngalor ngidul nihhhh…. Intinya saya lagi males baca novel OUT ini…Ini baru halaman 46, konflik belum muncul…Masih lama euyyyy tamatnya, masih 525 halaman lagi. Entah kapan bisa selesai...

Senin, 03 Maret 2008

Cerita Cinta Ayah dan Ibu

Ayah dan ibuku saling bertemu di tempat kerja. Ibuku masih mengingat jelas bagaimana keadaan ayahku saat melamar ke kantor dahulu. Yah….ibuku yang lebih dulu bekerja di kantor itu (PROSIDA, kemudian menjadi Departemen PU sekarang). Waktu itu katanya ayahku datang mau menemui bagian personalia. Ibuku masih terkenang ketika ayah yang datang ke kantor dengan berjalan agak membungkuk dan membawa map di tangan. Ayahku terlihat lusuh saat itu, apalagi ibuku sering menertawakan kemejanya yang robek dan dijahit dengan benang dengan warna yang berbeda dengan kemejanya. Hahahaha…hahaha…..

Pepatah Jawa terkenal itu, yang berbunyi: Witing Tresno Jalaran Suko Kulino
(bener nggak ya tulisannya?? Aku ini orang Jawa yang nggak bisa bahasa Jawa, alasannya : karena orangtua yang berbeda budaya dan aku dibesarkan di luar Jawa jadi tidak terbiasa ngomong Jowo…)

membuktikan bahwa memang benar bahwa perasaan cinta dapat timbul karena sering bertemu dan terbiasa bersama..
Begitulah ayah dan ibuku kemudian memutuskan menjalin hubungan cinta. Namun kisah cintanya mungkin berbeda dengan kisah cinta pemuda-pemudi jaman sekarang yang sering menghabiskan waktu dengan menonton di bioskop atau makan-makan.


Bukannya sombong lho, tapi memang benar ayahku termasuk pemuda yang tampan saat itu (pokoknya nggak jelek-jelek banget, bisa dibanggakan lah). Dilihat dari foto –foto lawas, perawakannya mirip-mirip Deddy Mizwar jaman dulu, wajahnya mirip Juwono Sudarsono (Menteri Pertahanan kalau nggak salah, kenal kan? ). Kalau saja dulu ayahku sabar menunggu, mungkin sekarang sudah ngetop seperti Sophan Sopiaan dan Roy Marten. Hihihihi……
Ayahku pernah melihat ada syuting film dan lagi ada casting pemain. Ada niat untuk jadi artis, ayahku ikut-ikutan berdesakan bersama orang-orang, tapi mesti menunggu lama untuk casting. Lalu ayahku tidak sabaran, karena mesti kembali ke kantor, akhirnya pergi deh…Bye bye bye

Kembali lagi…
Badan ayahku yang tinggi itulah mungkin salah satu faktor yang membuat ibuku jatuh hati. Maklum, ibuku memang dari keluarga yang memiliki keturunan berbadan pendek. Namun begitu, saat muda, ibuku ini termasuk modis dan gaya. Orang Bandung euy…kan terkenal pintar bergaya . Bahkan harus diakui lebih gaya dan fashionable dibanding anak-anaknya sekarang. Ibuku dulu kecil mungil lho, kayak Rossa. Beda jauh sama anak-anaknya sekarang yang montok-montok. Eyang Putriku malah menyamakan ibuku dengan penyanyi ngetop jaman dulu ( Iis Sugianto atau ….lupa namanya, pokoknya adik dari istrinya Ebiet G. Ade)

Lihat dari foto-fotonya aja, busyet….ibuku ini rupanya pengikut mode kala itu. Pada salah satu foto, ibuku mengenakan : rok mini, kemeja putih, sepatu sandal yang berhak 12 cm lengkap dengan kacamata hitam gede dan bergaya bak model…Eh tapi kalau dilihat lebih jelas ternyata di foto itu ibuku berdiri di atas jembatan dengan latar belakang jalanan ibukota, tepatnya di Jalan Thamrin yang saat itu masih lengang kendaraan. PD banget ya…pasti dilihat orang-orang disangka model majalah.


Ehmmm, back again to the love story…

Sebenarnya aku nggak terlalu tahu banyak tentang kisah cinta mereka. Yang aku tahu mereka pacaran lama banget, kurang lebih 10 tahunan. Bukan keinginan ibuku (siapa juga perempuan yang mau telat menikah?), tetapi karena ayahku ingin menikah setelah lulus kuliah dan menyandang gelar Sarjana (lulus kuliah aja lamaaaa banget, sambil bekerja juga sih).
Jadi teringat Bung Hatta yang ingin menikah setelah Indonesia merdeka.
Selain itu juga karena ayahku tulang punggung keluarga, ia ingin adik-adik perempuannya yang lebih dahulu menikah.

Ibuku setia juga ya, padahal menurut ceritanya, ada juga yang naksir ibuku ini. Malah orang itu lulusan teknik dan kalau malam minggu suka datang ke rumah Mbah sebelum ayahku datang, tapi ibuku sering nggak mau kalau diajak pergi olehnya. Mbahnya ibuku ini suka memanas-manaskan suasana dengan menanyakan kapan menikah dengan ayahku.

But, pada akhirnya setelah wisuda ayahku di awal tahun 1981, jadilah orangtuaku menikah pada Oktober 1981 setelah berkenalan pertama kali di tahun 1969. Karena itulah mengapa mereka belum mempunyai cucu di saat teman-teman seangkatannya di kantor sudah menggendong-gendong cucu.

Mmmm beberapa kisah seputar hubungan mereka :

  1. Menurut ibuku, ayahku ini orangnya agak gengsian. Pernah suatu ketika ayahku terlihat pucat, ibuku menanyakan sudah makan atau belum. Ayahku berkata belum lapar, padahal ibuku tahu sendiri bahwa ayah sudah nggak punya uang lagi karena habis untuk dikirim ke adik-adiknya. Ibuku yang sebal karena tahu ayahku gengsi padanya, melempar nasi bungkus ke meja. Dan ternyata memang benar bahwa ayahku itu seringkali tidak makan demi melakukan pengiritan uang. Ayahku ini, selain tinggal di tempat saudara terkadang juga harus kost, memilih kost di tempat yang benar-benar buruk saking ingin berhematnya…Jelek banget…. Bayangkan saja, kamar mandi nggak ada jambannya, jadi kalau mau buang air besar harus ke kali. Ihhh…

    Alasannya, apalagi kalau nggak buat keluarganya. Adiknya, terutama yang perempuan sering menulis surat meminta uang tambahan untuk kursus ini itu. Tapi ayahku ikhlas dan tidak mengharap apa-apa, sebaliknya ibuku yang sering sebal karena walaupun telah menikah tapi ayahku masih rajin mengirim uang kepada adiknya dengan jumlah yang besar. Jadilah terpaksa ibuku ini harus mengeluarkan uang dari gajinya untuk tambahan kebutuhan kami sehari-hari.

    (Pantas saja ibuku ini tidak memiliki tabungan dan banyak perhiasan seperti umumnya wanita karir lain atau teman-teman kantornya yang lain. Aku kira ibuku tidak suka perhiasan, tetapi ternyata karena gajinya sendiri terkadang habis untuk kebutuhan sehari-hari)

    Namun sekarang, alhamdulillah adik-adik ayahku ini banyak yang telah menjadi orang yang sukses di karirnya. Adik bungsunya saja telah menjadi General Manager sebuah perusahaan asuransi asing. Padahal ia hanya Sarjana Peternakan, namun karena kerja kerasnya ia berhasil menekuni bidangnya yang sekarang. Dan yang lebih mengharukan mereka ini tetap menghormati ayahku dan tetap mengingat masa lalu sehingga mereka sering membantu ayahku di saat-saat kami membutuhkan.
    Thanks to Allah SWT…

  2. Ayahku ini pada masa kuliah seangkatan dengan ayahnya Ivan Gunawan (siapa yang nggak kenal perancang ini??) yang bernama Gunawan. Jadi ayah dan ibuku mengetahui kisah pak Gunawan ini dengan seorang wanita yang bernama Erna. Kebetulan ibuku yang tinggal di rumah Mbah, di Jl Lamandau, juga mengenal Erna yang sama-sama tinggal di daerah Kebayoran Baru. Yup .… Erna ini adalah adiknya desainer kondang, Adjie Notonegoro. Jadi nggak heran kalau Madam Ivan memiliki bakat yang sama dengan sang paman.

    Tetapi sayangnya nasib ayahku dan Pak Gunawan ini sangat jauh berbeda. Ayahku selesai kuliah tetap mau bertahan di Depertemen PU dan menjadi PNS, padahal seperti yang diketahui Sarjana Hukum di Departemen PU kondisinya akan berbeda dibanding jika ayahku melamar ke Departemen Kehakiman atau Departemen lain yang yang lebih membutuhkan lulusan hukum (ayahku menjadi tidak bisa mengalami peningkatan karir, karena di PU lebih membutuhkan lulusan teknik)
    Berbeda nasib dengan pak Gunawan yang bekerja di Departemen Luar Negeri dan menjadi diplomat. Dengar-dengar saat ini Pak Gunawan adalah Konsulat Jenderal RI di Kanada. Semenjak lulus kuliah, ayah dan ibuku tidak pernah mengetahui kabar pak Gunawan dan Erna lagi karena mereka selalu tinggal di luar negeri. Sampai pada suatu saat muncullah sang Madam Ivan di dunia entertainment Indonesia.

    Namun yang aneh dan mengherankan, baik orangtuaku maupun pak Gunawan dan Erna, sama-sama memiliki anak yang lahir pada tanggal yang sama….Yaaaaa………… ini kalau nggak salah. Pada acara Super Mama Seleb Konser, Madam Ivan menyebutkan kalau ulang tahunnya tanggal 31 Desember. Berarti sama dengan aku donk. Tahunnya yg beda Ivan lahir 1981 dan aku setahun lebih muda…
    Namun yang benar-benar sama menurutku adalah baik aku maupun Ivan sama-sama memiliki body yang besar….Hahahaha……………………